Gunungan sampah di TPA Muara MURIANETWORK.COM, Pekanbaru, sudah lama jadi masalah akut. Tapi sekarang, ada secercah harapan. Polda Riau bersama Pemkot setempat akhirnya ambil langkah nyata dengan mengusung teknologi Waste-to-Energy (WTE) ke lokasi itu. Intinya sederhana: ubah sampah yang menggunung jadi sumber energi. Inisiatif ini diharap bisa jadi solusi jangka panjang, sekaligus mengakhiri darurat sampah yang bikin pusing selama ini.
Nah, mungkin ada yang bertanya-tanya. Apa urusan polisi dengan urusan sampah? Pertanyaan itu dijawab langsung oleh Kabid Humas Polda Riau, Kombes Zahwani Pandra Arsyad.
"Mengapa Polri mengurus sampah? Kami berpijak pada Broken Windows Theory. Lingkungan yang kumuh dan tak terurus seringkali jadi pemicu awal ketidakteraturan sosial," ujar Pandra, Kamis (5/3/2026).
Dia melanjutkan, penanganan sampah ini bentuk pelayanan proaktif. Sebuah 'preemptive strike' untuk mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat sebelum terjadi.
Posisi Polda dalam proyek ambisius ini bukan sebagai operator teknis. Mereka lebih berperan sebagai 'nexus', atau penghubung, yang merangkai kolaborasi pentahelix. Artinya, mereka coba satukan pemerintah, pengusaha, akademisi, komunitas, dan media untuk bergerak bersama.
Lebih jauh, kehadiran institusi berseragam ini memberikan jaminan 'security as a capital'. Dengan kata lain, kepastian hukum dan keamanan yang mereka jaga menciptakan iklim investasi yang kondusif. Investor punya rasa aman untuk menanamkan modal besar, tanpa membebani anggaran daerah.
Dari Sampah Menjadi Listrik
Lantas, bagaimana cara kerjanya? Teknologi Waste-to-Energy pada intinya akan mengubah timbunan sampah di Muara Fajar menjadi sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBio). Proyek besar ini dijalankan murni melalui skema kerjasama bisnis antara Pemkot Pekanbaru dan investor swasta, PT ICE. Tidak ada satu rupiah pun dari APBD yang dicairkan.
Menurut Pandra, fasilitas canggih ini nantinya akan menangkap gas metana beracun salah satu penyebab bau busuk dan emisi berbahaya lalu mengonversinya menjadi listrik hijau. Kapasitasnya mencapai 3 megawatt, dengan proyeksi pasokan listrik ke jaringan PLN sekitar 20,5 juta kWh per tahun. Angka yang tidak main-main.
Terwujudnya investasi hijau ini tak lepas dari intervensi Polda Riau yang membawa visi Kapolda, Irjen Pol Herry Heryawan. Mereka tak cuma datang sebagai penegak hukum, tapi juga berperan sebagai akselerator ekonomi hijau lewat program 'Green Policing' dan Satgas ASRI.
Dampaknya diharapkan bisa berlipat ganda. Dari sisi lingkungan, volume sampah diprediksi bakal menyusut drastis, 80-90%. Bau tak sedap dan risiko kebakaran tumpukan sampah juga bisa ditekan jauh. Pemerintah kota pun dapat bernapas lega karena tak perlu lagi membayar tipping fee dan beban operasional TPA akan jauh berkurang.
Di sisi lain, manfaat ekonominya juga menggiurkan. Selain dari penjualan listrik, ada potensi pendapatan dari perdagangan kredit karbon yang bisa menyentuh angka Rp 6,7 miliar per tahun.
Tekanan untuk segera bertindak memang sangat nyata. Data Rencana Induk Pengelolaan Sampah memproyeksikan timbunan sampah Pekanbaru di tahun 2025 mencapai 1.378 ton lebih setiap harinya. Sebagian besar muaranya ya di TPA Muara Fajar yang sudah lama kelebihan beban. Situasi kritis inilah yang mendorong semua pihak untuk mencari terobosan, sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Artikel Terkait
Kementerian Haji dan Umrah Diuji, Kloter Pertama Berangkat 22 April 2026
Iran Tegaskan Tolak Pembicaraan dengan AS, Gencatan Senjata Hampir Berakhir
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Jakarta Sore Ini
Manchester City Kalahkan Arsenal 2-1, Jarak Puncak Klasemen Menyempit