Kabar terbaru dari Jalan Hertasning cukup mengejutkan. Setelah sempat dipertanyakan, hasil pengecekan langsung di lapangan justru menunjukkan ketebalan aspalnya sudah memenuhi bahkan disebut-sebut melebihi standar teknis yang dipersyaratkan.
Hal ini terungkap setelah kunjungan kedua anggota DPRD Sulawesi Selatan, kali ini bersama tim teknis Pemprov Sulsel, pada Kamis (5/3/2026). Kunjungan ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari sorotan yang mereka lakukan sehari sebelumnya.
Rabu (4/3), dewan sempat menyoroti bahwa ketebalan peningkatan jalan hanya 4 sentimeter dan dinilai telah selesai. Kecurigaan itu pun muncul.
Namun begitu, suasana berubah saat tim turun ke jalan. Ketua dan anggota Komisi D DPRD Sulsel melakukan uji petik ketebalan aspal di sejumlah titik ruas jalan yang sebelumnya jadi perhatian publik itu.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), ZN. Ahmad Wildani, memberikan penjelasan.
“Setelah kunjungan pertama kemarin, sekarang kunjungan kedua. Mungkin saat itu belum mendapat penjelasan yang komprehensif di lapangan,” ujar Ahmad Wildani.
Ia menuturkan, dalam pengecekan terbaru ini, anggota dewan bersama tim teknis benar-benar melakukan pengukuran langsung.
“Jadi hari ini dicek ketebalan. Posisi tadi sudah dicek dan ketebalan rata-rata memenuhi syarat bahkan melebihi 4 cm yang dipersyaratkan,” jelas Dani, sapaan akrab Kepala Seksi Preservasi Jalan Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Sulsel ini.
Menurutnya, untuk lapisan permukaan atau AC-WC (Asphalt Concrete – Wearing Course) dalam pekerjaan overlay, standar tebalnya memang 4 cm sesuai Spesifikasi Umum Bina Marga. Lapisan ini dirancang khusus dengan agregat halus dan kadar aspal yang lebih tinggi untuk menahan beban lalu lintas langsung. Posisinya di paling atas membuat perannya krusial: agar permukaan jalan lebih rapat, kedap air, dan tentu saja, halus saat dilalui.
Pengujian dilakukan di beberapa titik pada ruas jalan yang sedang dipreservasi sepanjang 1,8 kilometer itu. Dani menyebut, setelah hasil pengukuran awal menunjukkan ketebalan sudah memenuhi standar, pengujian tidak dilanjutkan ke titik lain.
“Anggota dewan melaksanakan uji petik. Karena hasilnya dirasa cukup, sehingga tidak dilanjutkan ke sampel lainnya. Secara mayor sudah didapatkan ketebalannya,” katanya.
Dalam kegiatan itu, hadir pula PPTK, tim teknis, dan perwakilan laboratorium provinsi yang membantu proses di lapangan. Anggota Komisi D DPRD Sulsel, Muhammad Sadar, juga mengakui bahwa ketebalan yang diperiksa telah memenuhi syarat.
Di sisi lain, perhatian juga dialihkan ke ruas jalan lain. Selain di Hertasning, anggota dewan menanyakan perkembangan pengerjaan Jalan Aroepala yang masuk dalam program preservasi yang sama.
Menurut Dani, pengerjaan di Aroepala masih menunggu. Tahapannya adalah menunggu pabrikasi saluran beton pracetak atau U-Ditch.
“Jalan Aroepala saat ini menunggu tahap pabrikasi U-Ditch atau saluran. Karena metodenya nanti kalau sudah ada baru kita melakukan pembongkaran saluran,” ujarnya.
Logikanya sederhana. Metode pekerjaan sengaja dibuat bertahap untuk menghindari kekacauan yang lebih besar. Membongkar saluran lama terlalu cepat, sementara penggantinya belum siap, berisiko besar mengganggu arus lalu lintas.
“Kalau terlalu lama terbongkar, dikhawatirkan akan berdampak pada lalu lintas yang bisa menjadi terhambat atau macet,” tambahnya.
Karena itulah, Pemprov Sulsel memutuskan untuk menunggu hingga seluruh komponen U-Ditch tersedia di lokasi baru memulai pembongkaran.
Pemerintah provinsi melalui insiden ini menegaskan komitmennya. Mereka berupaya memastikan setiap pekerjaan infrastruktur jalan, dari Hertasning hingga Aroepala, dilaksanakan sesuai standar. Pengawasan lapangan dan uji teknis seperti ini, dengan melibatkan DPRD, diharapkan bisa menjaga kualitas sekaligus memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi semua pengguna jalan.
Artikel Terkait
Bayern Munich Balas Gol Cepat Stuttgart dengan Amukan Tiga Gol
Menantu Tewaskan Mertua dengan Golok di Lampung Selatan
Rabiot Pecah Kebuntuan, AC Milan Bungkam Verona 1-0
Mentan Ajak Wisudawan ITS Jadi Motor Inovasi Pertanian Hadapi Krisis Global