Suara Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Hariyadi atau yang lebih dikenal sebagai Titiek Soeharto, terdengar tegas dan geram. Ia menyatakan sudah muak melihat pohon-pohon besar, kayu berharga, terus ditebang seenaknya. Tanpa tanggung jawab.
Kemarahannya ini meluap setelah mendapat laporan bahwa ada oknum perusahaan yang nekat mengangkut kayu berukuran besar. Yang memprihatinkan, aksi itu terjadi tak lama setelah bencana banjir dan longsor menerjang wilayah Sumatera. Seolah-olah tragedi itu dimanfaatkan untuk kepentingan sepihak.
“Saya minta Bapak Menteri untuk cari tahu siapa perusahaan itu,” ujar Titiek, menatap langsung Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
“Dan tolong jangan ada pohon-pohon besar lagi yang ditebangin. Hentikan semua ini.”
Pernyataan itu disampaikannya dalam Rapat Komisi IV DPR bersama Kemenhut, Kamis lalu. Titiek bersikukuh, kayu berukuran besar harus dilindungi, apalagi jika penebangannya hanya untuk alasan yang manfaatnya tak jelas. Aturan, menurutnya, harus diperketat tanpa kompromi.
“Saya tidak mau, kami tidak mau ada alasan moratorium-moratorium, itu besok-besok saya dibilangin,” tambahnya, dengan nada khas.
“Tapi intinya enggak usah ada lagi itu pohon-pohon besar yang dipotong-potong.”
Ia lalu menyoroti masalah lain yang tak kalah pelik: pelonggaran aturan yang berujung pada penggundulan hutan hingga ke tepi pantai dan sungai. Kerusakannya masif, bukan sekadar sedikit.
“Akibat apa? Ya akibat land clearing, membuka lahan baru untuk perkebunan, pertambangan,” tuturnya menutup pandangan.
Tanggapan dari Menteri
Di sisi lain, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan akan segera bertindak. Ia berjanji melakukan investigasi menyeluruh soal tumpukan kayu yang ikut terbawa banjir di Sumatera. Menurut sejumlah saksi, kayu-kayu itu jumlahnya sangat banyak, memenuhi rumah warga, menyumbat aliran sungai, bahkan sampai ke hulu.
“Kementerian Kehutanan berkomitmen untuk melakukan investigasi secara tuntas material kayu yang terbawa arus banjir,” tegas Raja Juli.
Sekjen PSI itu mengaku sudah menurunkan tim khusus. Saat ini, mereka sedang menyusuri aliran sungai untuk mengumpulkan data valid tentang asal-usul kayu tersebut.
“Saat ini kami telah melakukan susur sungai melalui drone untuk memantau jalur DAS (Daerah Aliran Sungai) terdampak yang dilewati material kayu tersebut,” jelasnya.
Namun begitu, ia mengingatkan bahwa investigasi tidak boleh setengah-setengah. Pencarian harus komprehensif.
“Ini juga tolong jangan sampai hanya kita menyusuri di mana terjadi longsor, di mana kemudian terjadi kayu berasal. Itu juga akan menjadi data pendukung awal sebelum kemudian kita mencari di mana sebenarnya asal kayu tersebut,” ujar Raja Juli.
Artikel Terkait
Rem Truk Blong, Pengendara Motor Tewas di Jalan Padalarang–Cianjur
Pemprov Sulsel Biayai BPJS Ketenagakerjaan untuk 10.000 Nelayan dan Pekerja Informal demi Perluas Perlindungan Sosial
Ketua DPRD Magetan Ditahan Kejari, Tersangka Korupsi Dana Hibah Pokir Capai Rp242 Miliar
Asteroid Strenua akan ‘telan’ bintang HIP 35933, fenomena langka okultasi terjadi akhir April 2026