Shin Tae-yong dan Kluivert Ungkap Kerinduan pada Sepakbola Indonesia

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 04:30 WIB
Shin Tae-yong dan Kluivert Ungkap Kerinduan pada Sepakbola Indonesia

MURIANETWORK.COM - Dua pelatih asing yang pernah menangani Timnas Indonesia, Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert, mengungkapkan kerinduan mereka terhadap Tanah Air. Meski masa tugas mereka telah berakhir, keduanya menyimpan kesan mendalam atas pengalaman melatih di negara dengan gairah sepakbola yang luar biasa. Shin Tae-yong, yang kini berstatus sebagai ultra coach, mengaku masih merasa dicintai, sementara Kluivert secara terbuka menyatakan keinginannya untuk kembali, meski menyadari peluang itu kecil.

Shin Tae-yong dan Kenyamanan yang Tertanam

Shin Tae-yong, sang arsitek di balik sejumlah prestasi historis tim nasional, mengungkapkan alasan di balik ikatan emosionalnya dengan Indonesia. Pelatih asal Korea Selatan itu merasa telah menemukan kenyamanan dan kebahagiaan yang sulit dilupakan, terutama menyusul dukungan luar biasa yang diterimanya dari publik.

Prestasi yang berhasil diraih bersama para pemain muda Indonesia dan sambutan hangat dari masyarakat menjadi faktor utama. Ia menggambarkan setiap kunjungannya ke Indonesia selalu diwarnai perasaan senang.

"Memang Indonesia membuat saya bahagia. Karena pertama, prestasi. Dan fans sepakbola, bahkan masyarakat Indonesia mencintai saya," tuturnya dalam sebuah kesempatan.

"Jadi, setiap datang ke Indonesia merasa senang karena ada perasaan-perasaan itu," sambung Shin Tae-yong.

Patrick Kluivert dan Pengalaman yang "Gila"

Berbeda dari Shin Tae-yong yang masih aktif berkunjung, Patrick Kluivert justru menyampaikan kerinduannya dari jauh. Eks striker Belanda itu mendapat mandat menggantikan Shin Tae-yong dengan target ambisius membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026. Sayangnya, perjalanan tim terhenti di babak kualifikasi keempat Zona Asia, yang berujung pada pemecatannya bersama seluruh staf asisten.

Namun, kegagalan itu tidak mengikis kesan positifnya. Kluivert justru menggambarkan atmosfer melatih di Indonesia sebagai pengalaman unik dalam karier kepelatihannya yang panjang.

“Itu luar biasa. Saya belum pernah bekerja dalam suasana segila ini sebelumnya. Tiga ratus juta orang yang benar-benar tergila-gila pada sepakbola,” kenang Kluivert.

Dengan nada blak-blakan, legenda Ajax dan Barcelona itu mengakui bahwa ia masih tertarik untuk kembali melatih Timnas Indonesia. Namun, ia pun realistis menyikapi situasi tersebut.

“Saya bekerja dengan sangat menyenangkan. Tetapi, sayangnya tidak mencapai apa yang kami targetkan,” ujarnya.

“Saya sebenarnya ingin melanjutkan, tetapi itu tidak memungkinkan,” ungkapnya dengan nada sedikit menyesal.

Setelah meninggalkan Indonesia, Kluivert sempat vakun sebelum akhirnya menemukan peran baru sebagai duta untuk yayasan yang didirikan oleh legenda negaranya, Johan Cruyff.

Warisan dan Kenangan yang Tertinggal

Kisah keduanya mencerminkan betapa Indonesia bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sebuah pengalaman yang meninggalkan jejak emosional. Shin Tae-yong meninggalkan warisan berupa fondasi permainan dan perkembangan pemain muda, sementara periode singkat Kluivert mengukuhkan betapa fanatisme suporter Indonesia mampu memberi kesan mendalam bagi pelatih berkaliber internasional.

Ucapan "kangen" dari kedua pelatih ini bukan sekadar basa-basi diplomatis, melainkan cerminan dari pengalaman otentik mereka berinteraksi dengan denyut nadi sepakbola Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa di balik tekanan hasil pertandingan, ada ikatan manusiawi dan penghargaan terhadap budaya sepakbola sebuah bangsa yang bisa terbentuk.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar