“Ada indikasi pesawat menghantam bukit atau lereng,” ujar Soerjanto.
Menurut analisis sementara, pilot masih sempat melakukan kendali sesaat sebelum tabrakan. Namun kendali itu tidak penuh. Cuaca buruk diduga menjadi faktor kuat di baliknya. “Pilot masih bisa kontrol, tapi tidak dalam kendali penuh,” sambungnya.
Data AirNav menunjukkan pesawat hilang kontak di ketinggian sekitar 4.000 kaki. Kebetulan atau mungkin nasib ketinggian puncak Bulusaraung berada di kisaran yang sama, 1.300 hingga 1.500 meter.
Tapi Soerjanto berhati-hati. Semua ini masih dugaan. Penyebab resmi baru bisa ditetapkan setelah analisis bukti fisik dan data dari kotak hitam. Itu sebabnya, ia berpesan khusus pada tim di lapangan.
“Fokus utamanya temukan black box. Letaknya di ekor pesawat, yang ditemukan dalam kondisi hancur. Saya titipkan ini secara khusus,” tegasnya.
Pernyataan serupa datang dari Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Medan pegunungan memang berisiko, tapi penyebab pastinya tetap harus menunggu hasil penyelidikan yang komprehensif.
Proses Penjemputan yang Penuh Haru
Sementara pencarian berlangsung, proses identifikasi korban mulai dilakukan. Tim DVI bergerak mendatangi keluarga korban untuk mengambil sampel DNA pembanding.
“Saat ini tim DVI Polda Jawa Barat sedang di kediaman keluarga untuk ambil data antemortem dan DNA,” jelas Kombes Pol Hendra Rochmawan, Minggu (18/1).
Salah satu keluarga yang didatangi adalah keluarga Esther Aprilita S., pramugari pesawat naas itu. Pengambilan data ini langkah krusial untuk memastikan identitas korban dengan cara ilmiah.
Saksi Mata di Puncak Gunung
Kisah pilu ini ternyata disaksikan langsung oleh dua pasang mata. Reski (20) dan Muslimin (18), dua pendaki yang sedang menikmati puncak Bulusaraung, menjadi saksi hidup tragedi itu.
Reski bercerita, mereka baru saja tiba di summit. Pemandangan indah terbentang. Tiba-tiba, dari arah depan, sebuah pesawat terlihat terbang rendah.
“Kami lihat pesawat terbang rendah, lalu menabrak lereng gunung. Tidak jauh dari kami,” kenang Reski, Minggu (18/1).
Tabrakan itu diikuti ledakan dan bola api. Mereka terpaku, ketakutan. Jaraknya cuma sekitar 100 meter. “Pesawat meledak dan terbakar. Serpihan berhamburan ke mana-mana,” ujarnya, menggambarkan horor yang mereka alami siang itu.
Artikel Terkait
Eggy Sudjana dan JKW: Sebuah Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Guru vs Murid di Jambi Berujung Pengeroyokan dan Laporan Polisi
Banjir Lumpuhkan Rute Utama, KAI Batalkan Belasan Perjalanan Kereta
IKATSI Soroti Dua Sisi Rencana Revitalisasi Tekstil: Angin Segar dan Tantangan Nyata