Gibran Dituding Curang Saat Main Bola dengan Anak-anak di Wamena

- Minggu, 18 Januari 2026 | 13:00 WIB
Gibran Dituding Curang Saat Main Bola dengan Anak-anak di Wamena

Kunjungan Wapres Gibran Rakabuming Raka ke Wamena pekan lalu sebenarnya dimulai dengan suasana riang. Dia turun ke lapangan, bergabung dengan anak-anak sekolah sepak bola untuk sekadar bermain. Namun, satu momen singkat justru mengubah nada acara itu sepenuhnya.

Saat mencetak gol, Gibran tidak menendang atau menyundul. Dia mendorong bola pakai tangan. Jelas sekali itu pelanggaran. Dalam sepak bola mana pun, aturannya tak boleh main begitu.

Yang bikin orang heran, wasit di sana diam saja. Tak ada kartu kuning, apalagi merah. Padahal pelanggaran seperti itu mestinya berbuah kartu. Rekaman kejadiannya beredar cepat, dan tanggapan warganet pun membanjir.

Kebanyakan kritik pedas. Bagi mereka, ini bukan cuma soal salah aturan main bola. Lebih dari itu, dianggap cermin karakter.

"Main bola sama anak-anak pun dia melanggar aturan.🤥🥱,"

Begitu kira-kira salah satu cuitan yang viral.

Ada juga yang komentarnya lebih panjang, menyoroti pola.

"Kalau sudah karakter susah diubah. Kelihatan orangnya ga bs terima kekalahan. Bukannya bapaknya jg demikian? Ga pernah mau dianggap kalah, makanya sampai apapun dilakukan biar selalu menang,"

Netizen lain menyinggung soal nilai keteladanan.

"Karakter yg melekat dr seseorang muncul kapan pun. Apalagi ini di lingkungan generasi muda yg harusnya jadi panutan. Olahraga ini perlu sportivitas tinggi lebih penting drpd sekedar cetak skor abal2,"

Tak sedikit yang lebih keras lagi nada kritiknya.

"Nah ini contoh pemimpin yg nyitrain dirinya merakyat tapi curang dan sistem nya dibikin ga fair..kl salah ya dihukum dong, contoh kecil yg menjijikan,"

Momen yang mestinya ringan dan penangkal panasnya isu politik, malah berbalik jadi bahan perbincangan serius. Menurut sejumlah saksi di lokasi, suasana saat itu memang cair. Tapi justru di situlah masalahnya ketika aturan dasar permainan diabaikan begitu saja, bahkan oleh pemimpin yang seharusnya memberi contoh.

Di sisi lain, beberapa pihak mencoba meredam. Mereka bilang ini cuma permainan santai, bukan pertandingan resmi. Tapi bagi banyak yang menyaksikan rekamannya, pesannya jelas: sikap terhadap aturan, sekecil apa pun, sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar