ICP Indonesia Terjun ke USD61,10, Dihantam Banjir Pasokan Global

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:00 WIB
ICP Indonesia Terjun ke USD61,10, Dihantam Banjir Pasokan Global

Harga Minyak Indonesia Anjlok, Sentuh Level USD61,10 per Barel

Harga minyak mentah Indonesia untuk Desember 2025 resmi ditetapkan. Angkanya? USD61,10 per barel. Kalau dibanding bulan sebelumnya, November, yang berada di posisi USD62,83 per barel, terjadi penurunan cukup signifikan, tepatnya USD1,73.

Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri ESDM bernomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026, yang ditandatangani tanggal 9 Januari 2025 lalu. Penurunan ini, rupanya, tak lepas dari sentimen pasar global yang sedang dilanda kekhawatiran.

Narasi "super glut" atau kelebihan pasokan minyak dunia kembali menghantui. Pasar seolah kebanjiran. Produksi Amerika Serikat yang tetap tinggi, ditambah dengan peningkatan output dari negara-negara OPEC , membuat situasi semakin runyam. Belum lagi proyeksi dari Badan Energi Internasional (IEA) untuk tahun 2026 yang menyebutkan surplus pasokan bisa mencapai 3,7 hingga 4 juta barel per hari. Jumlah itu bahkan melebihi stok yang terjadi di masa pandemi dulu.

Menurut sejumlah analis, kondisi oversupply inilah yang jadi pemicu utama tekanan harga.

Namun begitu, faktor geopolitik juga turut berperan. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaiman, menyoroti ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Isu pembukaan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO disebut berpotensi menghambat pasokan ke depan.

"Penurunan ICP bulan Desember juga disebabkan oleh peningkatan pasokan minyak dunia. Terlihat dari produksi OPEC bulan November 2025 yang naik menjadi 43,065 ribu barel per hari dibanding bulan sebelumnya," jelas Laode Sulaiman dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (15/1).

Di sisi lain, Rusia sendiri justru memproyeksikan peningkatan produksinya. Tahun depan, produksi minyak mereka diprediksi naik menjadi 10,36 juta barel per hari, dan akan meningkat lagi di tahun 2026 mencapai 10,54 juta barel per hari. Ini tentu menambah beban pasokan global.

Data-data lain pun ikut berubah. OPEC merevisi proyeksi pertumbuhan produksi dari negara-negara di luar OPEC untuk 2025, naik 40 ribu barel per hari menjadi 0,95 juta barel per hari. Sementara itu, lembaga S&P Global justru memotong proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2025 menjadi 730 ribu barel per hari, turun 16 ribu barel dari proyeksi sebelumnya.

Untuk kawasan Asia Pasifik, ada faktor lain yang berpengaruh: Cina. Throughput atau pemrosesan minyak mentah di Negeri Tirai Bambu itu turun 0,9% pada November 2025, menjadi 14,86 juta barel per hari. Ini adalah level terendah dalam kurun waktu enam bulan terakhir, dan turut memberi tekanan pada harga di wilayah ini.

Secara keseluruhan, tren penurunan harga di bulan Desember 2025 terlihat jelas pada berbagai patokan minyak dunia:

  • Dated Brent merosot USD0,95 jadi USD62,70 per barel.
  • WTI (Nymex) turun lebih dalam, USD1,61 ke level USD57,87 per barel.
  • Brent (ICE) anjlok USD2,02 menjadi USD61,64 per barel.
  • Basket OPEC mengalami penurunan terbesar, USD2,61, menjadi USD61,85 per barel.
  • Dan ICP Indonesia, seperti disebutkan, menyusut USD1,73 ke posisi USD61,10 per barel.

Jadi, gabungan antara pasokan yang melimpah dan permintaan yang lesu, ditambah sentimen geopolitik, benar-benar menekan harga minyak mentah Indonesia di penghujung tahun 2025.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar