Su&8217;ul Khotimah
Di sisi lain, tanggapan publik di media sosial tak kalah keras. Banyak yang melihat langkah Eggi sebagai bentuk pembelotan.
"Buat apa merasa berjuang paling lama kalo ujungnya berdamai dengan musuh dan menjadi penghianat ? Sebanyak apapun kamu memberikan klarifikasi terhadap pembelotan dan berdamai dengan musuh , tetap tidak akan menggugurkan predikat egy sebagai seorang penghianat." (Ahmad Kirom)
"Mau baru berjuang atau sudah lama… Penghianat tetaplah penghianat…" (Noah Al Gazali Maridin)
Ada juga yang memberi sindiran halus tentang konsistensi. "Lama berjuang tidak sama dengan konsisten berjuang. Yang berjuang belakangan tidak identik dengan kerendahan." (Mudiono Mudi)
"Untuk apa berjuang sampai di tengah jalan, berjuang itu harus sampai akhir baru kesatria, kalau kayak gitu namanya pecundang." (Azzam Akbar)
Kemas Amin membuat analogi sejarah. "Dulu memang pejuang terus berubah jadi penghianat. Pada zaman penjajahan ada yang seperti ini."
Sementara komentar dari Samsudin Samsudin singkat dan padat: "Suul khatimah."
Begitulah. Perjalanan politik seorang Eggi Sudjana sekali lagi memantik perdebatan panjang antara loyalitas dan pilihan pragmatis. Antara pejuang lama dan cap penghianat yang melekat erat.
Artikel Terkait
Rismon Sianipar Tantang Eggi Sudjana: Silakan Minggir dari Lapangan!
Target Pajak 2025 Jeblok Rp 271 Triliun, Proyek Yayasan Jadi Sorotan
Cinta yang Mencairkan Hati Raja Iblis: Kisah Fenomenal Love Between Fairy and Devil
ICP Indonesia Terjun ke USD61,10, Dihantam Banjir Pasokan Global