Maka, konsistensi di sini bukan cuma kebajikan personal. Ia adalah kebutuhan kolektif.
Tapi hati-hati. Konsistensi juga punya bahayanya sendiri. Ia bisa tergelincir jadi dogma kalau kehilangan refleksi. Makanya, jiwa konsisten butuh kerendahan hati untuk belajar. Butuh keberanian untuk merevisi. Prinsip yang hidup itu nggak membeku. Ia bernapas, berkembang bersama pengetahuan baru.
Revisi bukan pengkhianatan. Asal dilakukan dengan jujur dan terbuka. Justru di situlah konsistensi menemukan kedalamannya: setia pada kebenaran, bukan pada ego.
Lalu, pertanyaan besarnya: gimana sih memelihara konsistensi di tengah dunia yang memuja kecepatan? Jawabannya ada di latihan batin.
Pertama, bangun kesadaran akan nilai. Tentukan apa yang penting, dan yang lebih penting, mengapa ia penting. Kedua, rawat jeda. Beri ruang antara dorongan hati dan tindakan nyata. Ketiga, tumbuhkan keberanian. Bersiaplah menanggung konsekuensi dari pilihan-pilihan berprinsip.
Latihan ini nggak spektakuler. Tapi ia yang pelan-pelan menenun karakter kita.
Pada akhirnya, pilihan antara konsistensi dan oportunisme adalah pilihan tentang identitas. Kita ini siapa, ketika nggak ada yang lihat? Apa yang kita pertahankan, saat tawaran menggiurkan datang menghampiri?
Jiwa konsisten memilih untuk utuh, meski konsekuensinya harus berjalan lebih lambat. Oportunisme memilih yang cepat, meski harus terpecah-pecah. Dalam keheningan, suara nurani kerap berbisik: hidup ini bukan cuma soal menang. Tapi tentang jadi pribadi yang layak dimenangkan.
Tulisan ini bukan seruan untuk jadi sempurna. Lebih ke undangan untuk jujur. Kita semua pernah tergoda. Tak jarang jatuh. Tapi selalu ada kesempatan untuk kembali. Menyusun ulang kompas, menegakkan nilai, dan melangkah dengan kesetiaan yang lebih dewasa.
Sebab di dunia yang berubah-ubah ini, konsistensi bukan kemewahan. Ia adalah jangkar. Dan dengan jangkar itulah, jiwa menemukan kedalaman. Serta arah.
Tabik.
(ata/red-jaksat)
Artikel Terkait
Cinta yang Mencairkan Hati Raja Iblis: Kisah Fenomenal Love Between Fairy and Devil
ICP Indonesia Terjun ke USD61,10, Dihantam Banjir Pasokan Global
Publik Soraki KPK Usai Yaqut Ditetapkan Tersangka Kasus Kuota Haji
Di Balik Berita Demo Iran: Tangan Asing dan Propaganda yang Dikemas sebagai Fakta