Golkar Prihatin dan Ingatkan Kader Usai Bupati Pekalongan Terjaring OTT KPK

- Selasa, 03 Maret 2026 | 13:15 WIB
Golkar Prihatin dan Ingatkan Kader Usai Bupati Pekalongan Terjaring OTT KPK

JAKARTA – Partai Golkar akhirnya angkat bicara. Respons mereka datang setelah salah satu kadernya, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, terjaring operasi tangkap tangan atau OTT oleh KPK. Sekjen partai, Sarmuji, tak bisa menyembunyikan rasa prihatinnya. Apalagi, Fadia dikenal sebagai putri dari penyanyi dangdut legendaris, A Rafiq.

"Kami tentu saja prihatin dan menyesal atas kejadian ini," ujar Sarmuji, Selasa (3/3/2026).

Suaranya terdengar berat. Di balik pernyataan singkat itu, ada pesan tegas yang ingin disampaikan partai berlambang pohon beringin ini.

Menurut Sarmuji, Golkar kembali mengingatkan seluruh kadernya terutama yang memegang jabatan di pemerintahan untuk bekerja sesuai koridor. "Kami meminta dengan sangat kepada seluruh kader yang memegang amanat pemerintahan untuk menjalankan pemerintahan sesuai koridor tata pemerintahan yang baik," tegasnya.

Ini jelas bukan insiden pertama. Dan partai tampaknya ingin mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.

Operasi Senyap di Pekalongan

Lantas, bagaimana kronologi penangkapan ini? Ternyata, OTT digelar KPK di Jawa Tengah tepat pada Selasa itu juga. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo membenarkan kabarnya.

"Benar, dalam kegiatan penyelidikan tertutup ini, tim mengamankan sejumlah pihak di wilayah Pekalongan, Jawa Tengah, salah satunya Bupati," kata Budi.

Fadia dan beberapa pihak lain langsung dibawa ke Jakarta, tepatnya ke Gedung Merah Putih KPK, untuk menjalani pemeriksaan lebih mendalam. Sayangnya, KPK masih tutup mulut soal perkara spesifik yang menjerat sang bupati. Jenis barang bukti yang berhasil diamankan pun belum diungkap ke publik. Semuanya masih dalam tahap penyelidikan.

Siapa Fadia Arafiq?

Figur Fadia Arafiq sendiri cukup menarik. Lahir di Jakarta, 23 Mei 1978, ia adalah anak dari mendiang A Rafiq. Latar belakang pendidikannya cukup kuat: S1 Manajemen di Universitas AKI Semarang, lalu S2 di Universitas Stikubank Semarang. Tak berhenti di situ, politikus Golkar ini juga menyandang gelar doktor (S3) dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang.

Jalur karir politiknya berawal dari kursi Wakil Bupati Pekalongan untuk periode 2011-2016. Setelahnya, ia memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Pekalongan dan juga sempat menjabat sebagai Ketua KNPI Jawa Tengah.

Kini, Fadia sedang menjalani periode keduanya sebagai Bupati Pekalongan (2025-2030), setelah terpilih kembali. Sebuah posisi yang kini terancam oleh operasi senyap KPK.

Kejadian ini tentu meninggalkan tanda tanya besar. Bagaimana kelanjutan kasusnya? Dan apa dampaknya bagi peta politik di daerah tersebut? Waktu yang akan menjawab.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar