"Saya harap ini sudah menjadi kewajiban BBWS. Tanggul ini sudah lama, jadi tolong dicek agar tidak terjadi jebol lagi ke depannya," sambung Aep.
Nah, soal teknisnya, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Karawang, Tri Winarno, punya penjelasan. Titik yang jebol itu ternyata ada sifonnya struktur semacam terowongan air yang biasanya untuk mengalirkan air ke sawah. Retakan dan jebolnya tanggul membuat air irigasi justru belok, masuk ke sifon yang malah terhubung langsung ke pemukiman.
"Ada sifon yang dipakai sebagai jalur lalu lintas air, ditambah peningkatan struktur di atas tanggul. Karena sudah tua, akhirnya jebol. Awalnya memang sudah terlihat ada retakan," jelas Tri.
Proses perbaikannya? Tidak akan instan. Untuk penanganan darurat saja, tim di lapangan memperkirakan butuh waktu tiga sampai lima hari. Perbaikan permanen tentu lebih lama lagi.
Sementara para petugas sibuk, warga seperti Niha hanya bisa melihat keadaan. Ia mengaku ini pengalaman pertamanya melihat Badami kebanjiran.
"Saya kurang tahu jam berapa awalnya, tahu-tahu sudah ramai. Ini pertama kali wilayah Badami banjir," katanya.
Ia tidak melihat langsung momen tanggul itu jebol. Saat keluar rumah, suasana sudah riuh rendah oleh air yang terus menggenang.
Artikel Terkait
Pengacara Eggi Sudjana Ungkap Syarat Berat di Balik SP3 Kasus Ijazah Jokowi
Di Balik Goyangan dan Lagu, Kisah Abah Rudi Bertahan Hidup di Simpang Dago
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation, Berapa Gajinya?
Isra Miraj: Titik Temu Perjalanan Duniawi dan Panggilan Langit