Banyak perusahaan sekarang merasa sudah on the track cuma karena punya akun media sosial dan rajin bikin konten. Lihat saja: jadwal posting padat, angka engagement terlihat bagus, laporan aktivitas komunikasi pun tampak solid. Semua terlihat berjalan.
Tapi di balik keriuhan itu, ada satu masalah yang jarang banget dibuka: budaya korporat di era digital ini nyaris tidak pernah dievaluasi dampaknya secara serius.
Menurut sejumlah praktisi, kegiatan komunikasi kerap langsung dikaitkan dengan pencapaian. Selama pesan terkirim, acara terselenggara, dan konten tayang, strategi dianggap berjalan sukses. Padahal, tanpa evaluasi yang jelas, perusahaan cuma fokus pada 'bicara' tanpa pernah tahu apakah pesannya benar-benar didengar, dipercaya, atau malah diabaikan oleh publik dan karyawan sendiri.
Budaya perusahaan itu sebenarnya bukan cuma soal reputasi. Ia menyentuh hal yang lebih dalam: keyakinan. Kalau tidak dinilai secara strategis, organisasi bergerak cuma berdasarkan asumsi. Bisa bahaya.
Akibatnya, salah tafsir publik, ketidakpuasan internal, sampai ancaman krisis reputasi bisa mengendap dan membesar perlahan. Apalagi di dunia digital yang serba transparan ini. Situasi VUCA makin memperkeruh. Batas antara komunikasi internal dan eksternal sekarang tipis banget. Pesan rahasia untuk karyawan bisa jadi konsumsi publik cuma dalam hitungan menit.
Makanya, menilai komunikasi digital itu nggak bisa lagi dianggap sebagai formalitas laporan belaka. Ini harus jadi alat untuk memahami arah risiko dan tingkat kepercayaan.
Sayangnya, masih banyak yang terjebak pada data yang terlihat mentereng. Reach, likes, impressions itu semua sering dijadikan patokan utama kesuksesan. Padahal, angka-angka itu cuma menunjukkan seberapa jauh pesan menyebar, bukan seberapa dalam pesan itu dipahami atau diyakini. Di sinilah bedanya antara keramaian dan pengaruh yang sesungguhnya.
Nah, untuk membedakannya, ada kerangka output, outtake, dan outcome. Output itu mencatat kegiatan: berapa konten diunggah. Outtake mengamati reaksi: apa yang audiens pahami atau rasakan. Sementara outcome menilai perubahan sikap dan perilaku nyata.
Masalahnya, banyak organisasi mentok di tahap output. Alasannya klasik: itu yang paling gampang diukur dan dilaporkan. Tapi tanpa mengejar outcome, komunikasi cuma jadi obrolan kosong, bukan pendorong perubahan.
Beberapa perusahaan global sudah menunjukkan cara yang berbeda. Google, misalnya, menemukan bahwa kinerja optimal justru lahir dari rasa aman secara psikologis, bukan dari pengawasan ketat.
Artinya, komunikasi internal yang transparan dan lingkungan dimana orang bebas berpendapat, punya pengaruh langsung pada inovasi dan ketahanan perusahaan.
Netflix juga punya cerita. Mereka membangun reputasi lewat transparansi dan kejujuran yang radikal. Prinsipnya: berikan konteks, bukan kendali. Alih-alih takut kebocoran informasi, keterbukaan malah jadi tameng reputasi mereka. Karyawan merasa dipercaya, budaya komunikasi pun tumbuh kuat.
Lain lagi dengan Amazon. Mereka memusatkan semua komunikasi pada obsesi terhadap pelanggan. Pendekatan ini membuat manajemen stakeholder jadi lebih empatik, terutama saat krisis. Tujuannya bukan sekadar membela perusahaan, tapi menyelesaikan masalah nyata yang dirasakan orang.
Ironisnya, banyak perusahaan di sini cuma melihat studi kasus internasional itu sebagai bahan presentasi yang keren. Bukan untuk dipelajari sungguh-sungguh. Padahal, belajar dari kegagalan dan kesuksesan orang lain adalah cara paling masuk akal untuk memperkuat strategi tanpa harus menanggung risiko yang sama besarnya.
Intinya, tanpa analisis data yang mendalam, perusahaan cuma mengandalkan naluri dan cara-cara usang. Di era serba cepat ini, mengandalkan firasat saja jelas tidak cukup. Data sentimen, feedback karyawan, dan tindakan stakeholder harus jadi fondasi setiap keputusan strategis.
Pada akhirnya, budaya digital perusahaan yang kuat bukan dinilai dari seberapa sering mereka bicara. Tapi dari seberapa besar pengaruh kata-kata itu membangun kepercayaan. Tanpa penilaian yang objektif, komunikasi cuma jadi suara yang hilang ditelan kebisingan.
Di era digital, perusahaan yang bertahan bukan yang paling lantang. Tapi yang paling paham dampak dari setiap pesan yang mereka sampaikan.
Artikel Terkait
17 Februari dalam Catatan Sejarah: Dari Tsunami Maluku 1674 hingga Kelahiran Buya Hamka dan Michael Jordan
Rooney Ingatkan Risiko Euforia United Strands, Cunha Tegaskan Fokus Hanya pada Poin
Tyler Morton Ungkap Kurangnya Kepercayaan dari Arne Slot Sebabkan Hengkang ke Lyon
Persib Dikabarkan Intip Kiper Belanda Ronald Koeman Jr.