Triliunan untuk Makanan, Nasib Guru Honorer Tetap Terkatung
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, kritik pedas datang dari peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Muchlis A Rofiq. Menurutnya, program yang digadang-gadang itu justru jadi contoh pemborosan anggaran negara yang terang-terangan.
Yang lebih menyakitkan, di saat dana triliunan rupiah digelontorkan, nasib guru honorer pahlawan tanpa tanda jasa di garis depan pendidikan masih saja terabaikan. Mereka hidup dalam ketidakpastian, bertahun-tahun mengabdi dengan imbalan yang minim.
"Anggaran triliunan dihambur-hamburkan, sementara guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun masih hidup dalam ketidakpastian. Ini sungguh menyakitkan,"
Ucap Muchlis dalam pernyataannya di media sosial, Jumat lalu. Rasanya seperti pukulan telak bagi rasa keadilan.
Memang, program ini dijalankan lewat Keputusan Presiden. Namun begitu, cara pelaksanaannya yang seremonial dan gemar berpesta justru menimbulkan tanda tanya besar. Alih-alih menjadi solusi, MBG dinilai cuma menciptakan struktur baru yang gemuk. Bahkan kabarnya, sejumlah petugas program diangkat menjadi ASN. Coba bayangkan kontrasnya.
Di satu sisi, ribuan guru honorer bergelut dengan nasib yang tak jelas. Di sisi lain, program baru malah membuka lapangan jabatan dan fasilitas mewah bagi segelintir orang. Ironi yang sulit diterima akal sehat.
Artikel Terkait
Medali Nobel Perdamaian Machado Berlabuh di Tangan Trump
Kiai Eko Tuding Bencana Aceh Sebagai Laknat, Warganet Geram
Pascabencana Sumatera, Satgas Fokus pada Membangun Lebih Tangguh
Prabowo Baca Sinyal Global, Diplomasi Indonesia Bergerak di Tengah Badai