Arah kebijakan pemerintahnya pun jelas dan disiplin: mengurangi ketergantungan pada jasa bernilai rendah, mendalami rantai nilai teknologi, dan menjadi pusat AI serta penelitian di kawasan. Transisi semacam ini pasti ada rasa sakitnya, tapi bagi Singapura, ini harga yang harus dibayar untuk menjaga daya saing di masa depan.
Jadi, bagaimana kita harus melihat ini?
Mengukur kesehatan ekonomi Singapura dari banyaknya kedai kopi yang tutup itu sama kelirunya dengan menilai revolusi industri dari nasib para kusir delman. Indikator yang lebih masuk akal adalah produktivitas, aliran investasi, dan kualitas lapangan kerja yang tercipta.
Singapura tidak tumbang. Mereka dengan sengaja meninggalkan model lama. Yang merosot adalah bisnis-bisnis yang tak lagi relevan; yang tumbuh subur adalah ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi.
Dalam catatan sejarah, negara yang bertahan biasanya bukan yang nekad mempertahankan masa lalu, melainkan yang berani mengubahnya. Itulah yang sedang dilakukan Singapura dengan tenang dan terukur. Zaman memang berganti. Model bisnis pun harus beradaptasi. Namanya saja transformasi.
Tak seperti di tempat lain yang, sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang, masih sibuk menguras sumber daya alam tanpa henti.
(")
Artikel Terkait
Pascabencana Sumatera, Satgas Fokus pada Membangun Lebih Tangguh
Prabowo Baca Sinyal Global, Diplomasi Indonesia Bergerak di Tengah Badai
Putra Mahkota Pengasingan Janjikan Pengakuan Israel dan Hentikan Nuklir Jika Berkuasa
Gadog Macet Total, 3.300 Kendaraan Serbu Puncak di Pagi Buta Isra Mikraj