✍🏻 Erizeli Jely Bandaro
Belakangan ini, ramai sekali kabar yang bilang ekonomi Singapura lagi jeblok. Kedengarannya meyakinkan, ya? Toko-toko tutup. Restoran berhenti beroperasi. Berita PHK di mana-mana. Kesimpulannya seolah sudah jelas: negara itu sedang melemah.
Tapi tunggu dulu. Narasi itu, meski laris, sebenarnya menyesatkan. Ia gagal melihat perbedaan besar antara sebuah krisis dan sebuah transformasi. Yang terjadi di Singapura bukanlah kejatuhan. Ini lebih mirip pergantian mesin dari model lama ke model baru yang lebih bertenaga.
Fenomena tutupnya gerai ritel dan tempat makan itu memang nyata. Tapi di Singapura kota dengan biaya hidup selangit di Asia itu adalah gejala seleksi alam ekonomi. Bisnis yang mengandalkan lalu lintas pejalan kaki dan sewa murah, dengan margin tipis, memang sedang terdesak. Pola konsumsi berubah: orang beralih ke layanan pesan antar, dapur virtual, dan pengalaman belanja yang lebih personal.
Di sisi lain, sementara gerai-gerai itu mengunci pintunya, ada gelombang investasi lain yang justru menguat. Lihatlah ke sektor infrastruktur digital, riset, dan manufaktur presisi. Ini bukan soal permintaan yang mengempis, melainkan perpindahan nilai tambah ke area yang lebih strategis.
Memang, gelombang PHK itu ada dan terasa. Namun begitu, sifatnya sangat sektoral, banyak terjadi di jasa tradisional dan peran yang bisa digantikan otomasi. Sementara itu, pasar tenaga kerja justru membuka tangan lebar-lebar untuk talenta di bidang-bidang baru.
Seperti AI dan sains data, semikonduktor, bioteknologi, hingga keuangan teknologi. Pemberitaan media kerap fokus pada pemutusan hubungan kerja, tapi jarang mengangkat hiruk-pikuk rekrutmen di sektor-sektor yang justru sedang panas. Padahal, cerita sesungguhnya ada di sana.
Ada satu fakta sederhana yang sering luput: arus tenaga kerja asing ke Singapura tak juga surut. Profesional dari Indonesia, Malaysia, India, dan China tetap berdatangan. Mereka datang bukan untuk buka warung, melainkan mengisi posisi sebagai insinyur, analis data, peneliti, atau pakar keuangan. Logikanya sederhana: orang tak akan berbondong-bondong pindah ke sebuah ekonomi yang sedang runtuh. Mereka datang karena melihat peluang dan produktivitas yang lebih baik.
Artikel Terkait
Pascabencana Sumatera, Satgas Fokus pada Membangun Lebih Tangguh
Prabowo Baca Sinyal Global, Diplomasi Indonesia Bergerak di Tengah Badai
Putra Mahkota Pengasingan Janjikan Pengakuan Israel dan Hentikan Nuklir Jika Berkuasa
Gadog Macet Total, 3.300 Kendaraan Serbu Puncak di Pagi Buta Isra Mikraj