Target ambisius pemerintah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tahun 2026 ini adalah zero accident. Artinya, tidak boleh ada lagi insiden keracunan yang terkait dengan program tersebut. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam sebuah acara evaluasi yang diunggah di kanal YouTube resmi BGN.
Dadan melihat tren penurunan kasus sebagai hal yang positif. Meski begitu, ia mengakui bahwa jalan menuju target nol insiden masih panjang.
"Tren penurunan itu bagus, ya. Tapi target kita memang zero accident, atau kalau bisa zero defect. Di tahun 2026 ini, kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalkan segala risiko," ujar Dadan.
Namun begitu, gambaran yang muncul dari lapangan justru kontras dengan optimisme pemerintah. Di sisi lain, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) merilis data yang cukup mencengangkan.
JPPI: Ada 1.242 Korban Keracunan MBG Per Januari 2026
Menurut catatan JPPI, hanya dalam bulan Januari 2026 saja, korban keracunan MBG sudah mencapai 1.242 orang. Angka ini bukanlah hal baru. Secara kumulatif, sejak 2025 hingga awal tahun ini, total korban yang terdokumentasi melonjak menjadi 21.254 orang.
Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menyampaikan data tersebut sebagai respons atas merebaknya kembali laporan keracunan dari berbagai daerah. Bagi Ubaid, rangkaian peristiwa ini adalah alarm peringatan yang tak boleh lagi diabaikan.
Ia menilai angka-angka itu bukti nyata bahwa program ini dijalankan dengan tergesa-gesa. Standar keamanan pangannya, menurutnya, masih jauh dari memadai.
"Ini adalah lonceng bahaya," tegas Ubaid saat dihubungi Selasa lalu, 13 Januari 2026.
"Membuktikan bahwa MBG hingga saat ini masih 'kejar tayang' tanpa standar keamanan pangan yang jelas."
Ubaid pun mempertanyakan komitmen negara. Bagaimana mungkin program yang seharusnya melindungi justru mengancam nyawa peserta didik?
"Kami menuntut pemerintah berhenti menjadikan anak-anak sebagai tumbal proyek ceroboh," ujarnya dengan nada prihatin.
"Tanpa keamanan pangan dan perlindungan anak yang jelas, program ini justru menjadi ancaman."
Artikel Terkait
Penyidik Polda Sumut Geledah Kantor Diskominfo Tebing Tinggi Usai OTT
Polisi Purbalingga Gagalkan Dua Modus Penyalahgunaan Subsidi LPG dan BBM
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi