Ia mengakui memang membicarakan soal ekonomi, namun konteksnya sama sekali berbeda.
“Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk motivasi, namun disalahpahami oleh siswa,” katanya.
Agus juga mengungkapkan, tamparan yang ia lakukan adalah luapan emosi setelah sekian lama menjadi korban bullying verbal dari para siswa. Rasanya, sudah mentok.
Di sisi lain, Dinas Pendidikan Jambi turun tangan. Harmonis, Kepala Bidang SMK, bersama kepolisian sedang mengusut tuntas kasus ini. Mereka telah meminta keterangan dari berbagai pihak.
“Saya kembali ke sekolah bersama Kapolres,” ujar Harmonis.
Harapannya, investigasi ini bisa cepat selesai agar kegiatan belajar mengajar tidak terus terganggu. Harmonis berharap kejadian pahit ini jadi pelajaran berharga bagi semua. “Guru harus bisa menjalankan fungsinya, siswa juga harus bisa belajar dengan tenang untuk masa depan,” tambahnya.
Gubernur Jambi, Al Haris, turut menyoroti kasus ini. Peringatannya jelas: tidak ada yang kebal hukum.
“Kalau gurunya salah kita berikan sanksi. Kalau memang perkataan dia tidak patut sebagai seorang guru maka akan ditindak,” tegas Al Haris, Kamis lalu.
Kini, semua mata tertuju pada proses investigasi. Masyarakat menunggu, bagaimana akhir dari kisah pilu di dunia pendidikan ini.
Artikel Terkait
Candi Palgading: Jejak Mataram Kuno yang Bertahan di Tengah Gempuran Perumahan Sleman
Pendaki Muda Ditemukan Tewas di Jurang Terpencil Gunung Slamet
Kelahiran Pertama Macan Tutul Amur di Wina Setelah Delapan Tahun
Ego Harus Terkubur: Dahnil Ingatkan Petugas Haji Soal Pengorbanan Jemaah yang Jual Rumah Demi Baitullah