Namun begitu, kepergian pohon bersejarah ini bukan berarti meninggalkan kekosongan. Lahan yang ditinggalkannya justru punya masa depan baru. Disperumkim bersama pihak terkait sudah punya rencana.
Mereka ingin mengubah area itu menjadi ruang publik, semacam taman atau plaza, yang bisa dinikmati semua warga. Pembangunannya akan dilakukan bertahap, tentu saja.
"Area bekas pohon karet kebo ini rencananya akan kami sulap jadi taman atau plaza. Jadi, fungsinya untuk masyarakat tetap ada, bahkan mungkin lebih baik," ujarnya.
Secara keseluruhan, operasi penebangan berjalan relatif mulus. Tapi tentu ada tantangan. Agar tidak mengganggu aktivitas warga dan kemacetan lalu lintas, sebagian besar pekerjaan berat dilakukan di malam hari. Meski kadang, terpaksa juga beroperasi di pagi hari.
Devi mengakui ada hambatan teknis di lapangan. "Lancar sih secara umum. Cuma ya, hal-hal seperti cuaca yang tidak menentu dan lalu lintas yang padat sempat jadi kendala kecil," ucapnya.
Kini, yang tersisa hanya kenangan dan sepetak tanah kosong. Sebuah babak telah berakhir di depan Balai Kota, menunggu babak baru sebagai ruang hidup bersama untuk dimulai.
Artikel Terkait
Purbaya Ancang-ancang Hantam Rokok Ilegal, Aturan Cukai Baru Segera Diteken
Bayi Dijual Rp 25 Juta, Bidan Jadi Otak Sindikat Perdagangan Bayi di Medan
Sindikat Bayi di Medan Terbongkar, TikTok Jadi Pasar Gelap
Prabowo Perintahkan Percepatan Industri Logam Tanah Jarang