Rupanya, kita harus mengucapkan selamat tinggal pada salah satu saksi bisu Kota Bogor. Pohon karet kebo raksasa yang selama puluhan tahun tegak di depan Balai Kota, akhirnya tumbang. Bukan karena angin, tapi oleh keputusan yang dianggap perlu. Dengan diameter batang mencapai tiga meter dan tinggi nyaris 35 meter, pohon itu dinilai sudah terlalu berbahaya untuk dibiarkan.
Proses penebangannya sendiri tidak bisa dibilang cepat. Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor mulai mengerjakannya sejak September tahun lalu. Ukurannya yang luar biasa besar, ditambah kondisi akar dan batang yang sudah rapuh, membuat pekerjaan ini harus dilakukan setahap demi setahap dengan sangat hati-hati.
Devi Librianti, Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Disperumkim, membeberkan alasan di balik keputusan sulit itu.
"Usianya sudah sangat tua dan punya nilai sejarah, itu kami akui," katanya, Kamis (15/1). "Tapi coba lihat posisinya, di pinggir jalan raya dan miring lebih dari 60 derajat. Akar dan batangnya pun rusak parah. Demi keselamatan publik, tidak ada pilihan lain."
Menurut Devi, penebangan kini sudah sampai ke bagian akar. Tapi pekerjaan belum beres benar. Tim masih harus membersihkan sisa-sisa tunggul dan memastikan lokasi itu benar-benar aman untuk dilewati.
Sayangnya, kayu dari raksasa yang tumbang ini tak bisa diselamatkan. Devi menyebut sebagian besar batangnya sudah lapuk dan mudah hancur.
"Akhirnya kayunya terpaksa dibawa ke tempat pembuangan sampah. Kondisinya memang sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan kembali," ungkapnya.
Artikel Terkait
Purbaya Ancang-ancang Hantam Rokok Ilegal, Aturan Cukai Baru Segera Diteken
Bayi Dijual Rp 25 Juta, Bidan Jadi Otak Sindikat Perdagangan Bayi di Medan
Sindikat Bayi di Medan Terbongkar, TikTok Jadi Pasar Gelap
Prabowo Perintahkan Percepatan Industri Logam Tanah Jarang