Napak Tilas untuk Kenangan
Lokasi angkringan ini strategis, tak jauh dari Jalan Solo-Yogya dan dikelilingi banyak kampus. Harganya yang murah memang sengaja dipertahankan untuk membantu para mahasiswa perantau. “Banyak. Yang dulu kuliah pertama di sini dari 1994 sampai anak pun masih menikmati di sini,” kenang Warsidi.
Uniknya, banyak pelanggan lama yang kini sudah berkeluarga kembali ke sini untuk bernostalgia. Mereka napak tilas masa-masa kuliah sambil mengenalkan suasana angkringan pada istri dan anak. “Ada yang ke sini (napak tilas). Dari harga nasi Rp 100-150 waktu itu,” ujarnya sambil tersenyum.
Permintaan yang tinggi membuat Warsidi sendiri tak lagi menghitung berapa porsi yang terjual setiap hari. “Nasi susah (menghitungnya). Kalau sop biasanya satu soblok besar. Banyak sekali (piring) susah menghitungnya. Jam segini sudah habis ini,” ungkapnya.
Ke depan, dia bertekad mempertahankan harga murah itu. Meski begitu, Warsidi mengaku tak tahu sampai kapan kebijakan itu bisa bertahan di tengah gempuran inflasi.
Dari Sudut Pelanggan
Saiful, salah seorang pelanggan, mengaku hampir setiap hari membeli makanan di sini. “Apalagi penjualnya ramah-ramah,” katanya.
Menurutnya, angkringan dengan harga semurah ini sudah sangat langka. “Tempat lain satu biji seribu. Kadang Rp 5 ribu dapat empat,” ujar Saiful. Bagi dia dan banyak pelanggan lain, Angkringan Tentrem Kang Doel bukan sekadar tempat makan, tapi juga bagian dari cerita hidup mereka.
Artikel Terkait
Prabowo Perintahkan Percepatan Industri Logam Tanah Jarang
Tito Karnavian Blusukan, Ungkap Peta Pemulihan Pascabencana Sumatera
Anis Matta: Dunia Menuju Konflik Global Lebih Berbahaya Mulai 2026
Cinta dan Misteri Berkembang di Tengah Pelarian Berbahaya