Di Tengah Keterpurukan, PKP Gelar Munas 2026 untuk Cari Manajer, Bukan Raja

- Kamis, 15 Januari 2026 | 14:00 WIB
Di Tengah Keterpurukan, PKP Gelar Munas 2026 untuk Cari Manajer, Bukan Raja

Lalu, bagaimana caranya mencari ‘manajer’ tadi? Prosesnya pun tak biasa. Mereka tidak pakai voting terbuka di arena Munas. Semua dilakukan lewat penjaringan tertutup jauh-jauh hari, berdasarkan kriteria yang sudah disusun.

Tim penjaringan menyusun kriteria untuk periode 2026–2031, lalu menjaring nama-nama. Kalau dapat lebih dari satu calon, mereka akan diranking. Yang rangking pertama dan bersedia, dialah yang dipilih. Metode ini sengaja dipakai untuk menghindari kontestasi yang berpotensi memecah belah.

Dari proses itulah kemudian muncul nama Isfan Fajar Satryo. Putra dari Try Sutrisno ini jadi kandidat hasil penjaringan. Tapi jangan salah, ini bukan soal dinasti. Rully bilang, Pak Try sendiri tak pernah mendorong anaknya untuk terjun ke politik. Bahkan cenderung menghindari pembicaraan soal itu.

Isfan maju setelah melalui diskusi panjang dan refleksi pribadi, paham akan kondisi bangsa dan partai. Prosesnya hampir 7-8 tahun, bukan instan. Dan yang menarik, ia pun enggan disebut ketua umum. Ia lebih suka dipanggil ‘manajer’.

Latar belakang Isfan dinilai cocok dengan tantangan ke depan: berlatar sipil, besar di keluarga TNI, punya pengalaman di dunia usaha dan organisasi, serta jejaring yang luas. PKP juga sadar, peta pemilih sekarang didominasi milenial dan Gen Z lebih dari 60 persen.

Ke depan, struktur partai juga akan dibangun dengan semangat berbeda. Bukan lagi soal loyalitas buta pada pimpinan, tapi menumbuhkan rasa memiliki bersama.

Kader diharapkan jadi subjek yang ikut memikul tanggung jawab moral, bukan sekadar pekerja politik. Rully menambahkan dengan nada serius, “Kalau rakyat kuat, negara tenang. Kalau elite nikmat, rakyat runtuh, konflik pasti datang.”

Pada akhirnya, Munas PKP 2026 ini lebih dari sekadar agenda organisasi. Ini adalah pernyataan sikap. Sebuah upaya untuk menempatkan politik kembali pada jalan etik, dengan harapan keadilan dan persatuan bisa diwujudkan secara riil. Sekarang, tinggal menunggu eksekusinya.


Halaman:

Komentar