Kejahatan Sunyi di Balik Layar: Ketika Anak Tak Sadar Jadi Korban

- Kamis, 15 Januari 2026 | 10:00 WIB
Kejahatan Sunyi di Balik Layar: Ketika Anak Tak Sadar Jadi Korban

Anak-anak yang jadi korban berisiko mengalami trauma berat. Kepercayaan mereka hancur, dan membangun hubungan sehat di masa depan jadi sulit. Ironisnya, justru korban yang sering disalahkan. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Kenapa mau sih?" atau "Kenapa nggak kabur dari awal?" masih sering terlontar. Padahal, inti dari grooming itu ya membuat korban merasa tidak punya pilihan untuk menolak.

Makanya, urusan child grooming nggak bisa cuma diselesaikan lewat jalur hukum. Pencegahan jauh lebih krusial. Literasi digital buat orang tua dan anak itu wajib. Anak harus diajari bahwa nggak semua perhatian itu tulus. Bahwa orang baik di balik layar belum tentu baik di dunia nyata. Dan yang paling penting, mereka berhak bilang "tidak" tanpa merasa bersalah.

Di sisi lain, orang tua dan lingkungan terdekat harus menciptakan ruang aman untuk curhat. Anak yang merasa didengar dan dihormati, akan lebih berani mengungkapkan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Sejujurnya, benteng terkuat melawan grooming ya hubungan yang hangat dan terbuka di rumah.

Negara juga harus lebih progresif. Aparat penegak hukum, guru, dan pekerja sosial perlu benar-benar paham pola-pola grooming ini. Penanganan terhadap korban harus dilakukan dengan sangat hati-hati, agar mereka tidak terluka untuk kedua kalinya oleh sistem yang seharusnya melindungi.

Child grooming adalah kejahatan sunyi. Dampaknya mendalam dan sering tersembunyi, tapi luka yang ditinggalkan sangat nyata. Kita harus berhenti memandangnya sebagai masalah kecil. Melindungi anak bukan cuma soal bertindak saat kejahatan terjadi, tapi lebih tentang mengenali tanda-tandanya sebelum semuanya terlambat. Pada akhirnya, anak-anak tidak butuh dunia yang sempurna. Mereka cuma butuh dunia yang mau benar-benar menjaga mereka.


Halaman:

Komentar