Ancaman child grooming sering kali tak terlihat. Ia jarang dimulai dengan teriakan atau paksaan. Justru, yang muncul adalah perhatian yang tiba-tiba, kedekatan emosional, dan rasa aman palsu yang dibangun pelan-pelan. Inilah yang membuatnya begitu licin. Banyak orang tua, guru, bahkan polisi, baru tersadar saat semuanya sudah terlambat.
Di era digital sekarang, praktik ini makin merajalela. Pelaku dengan mudah menyusup lewat media sosial, game online, atau aplikasi chat. Mereka datang bukan sebagai orang asing yang menyeramkan, tapi sebagai "teman", "kakak", atau sosok yang paling mengerti. Prosesnya tidak instan. Butuh waktu. Pelaku mempelajari kebiasaan anak, mencari titik lemahnya, lalu secara bertahap membangun kepercayaan dan yang lebih berbahaya kemandirian si anak dari orang tuanya.
Dan inilah sifat manipulatif yang bikin grooming begitu berbahaya. Korban sering kali tidak merasa jadi korban. Malah, mereka merasa spesial, dipilih, dan dipercaya. Nah, ketika hubungan itu mulai bergeser ke hal-hal berbau seksual, kondisi psikologis anak biasanya sudah terjebak. Rasa takut kehilangan teman dekat, rasa bersalah, dan kebingungan yang luar biasa sudah mengikat mereka.
Namun begitu, masalah ini masih sering dianggap sepele. Banyak yang bilang, "Ah, cuma chat biasa," atau "Itu kan cuma bercanda." Ada juga yang menyalahkan anak, "Dia sih yang terlalu aktif di sosmed." Perspektif seperti ini berisiko besar. Ia menutup mata kita pada bahaya yang sebenarnya mengintai.
Dari sisi hukum, Indonesia sebenarnya punya payung. Ada UU Perlindungan Anak dan UU TPKS. Tapi masalahnya ada di pembuktian dan pemahaman. Soalnya, grooming jarang meninggalkan bekas fisik yang kasat mata. Dampaknya justru psikologis, bisa bertahan lama, dan sulit diukur. Ini yang kerap membuat kasusnya terasa "abu-abu" di mata hukum.
Artikel Terkait
Klaim Trump Soal Eksekusi di Iran: Benarkah Situasi Sudah Tenang?
Wacana Penghapusan Pilkada Langsung: Demokrasi yang Dikubur Perlahan
Trump Ancang-ancang, Greenland Tegas Tolak Aneksasi AS
Gibran dan Ribka Turun Langsung, Tinjau Pembangunan dari Biak hingga Wamena