Rabu (14/1) lalu, Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan Pernyataan Pers Tahunannya. Dalam pidato yang disampaikan di hadapan para diplomat dan awak media itu, Sugiono menyoroti sebuah fenomena yang mengkhawatirkan: prinsip "Might Makes Right" atau "Siapa yang kuat, dia yang menang" kembali mengganggu tatanan dunia. Baginya, cara-cara semacam inilah yang perlahan-lahan merusak keseimbangan global yang sudah terbangun.
"Dunia menyaksikan kembalinya fenomena 'Might Makes Right'," ujar Sugiono.
Ia melanjutkan, standar ganda kini dipraktikkan secara terang-terangan, mengikis kepercayaan antarnegara. Akibatnya, tata kelola global yang seharusnya mengelola krisis justru kewalahan mengejar realita yang bergerak cepat.
Yang lebih memprihatinkan, di tengah kondisi ini, beberapa negara kunci justru memilih menarik diri dari tanggung jawab kolektif. Jika dibiarkan, krisis besar bukan tidak mungkin akan terjadi. Sebab, negara-negara akan masuk ke dalam mode bertahan masing-masing suatu situasi yang sama sekali tidak ideal bagi iklim diplomasi. Sejarah punya catatan kelam: terakhir kali dunia mengalami gejala serupa, Perang Dunia Kedua pecah.
"Terakhir kali dunia mengalami gejala-gejala ini, Liga Bangsa-Bangsa collapse, yang kemudian berujung pada pecahnya Perang Dunia Kedua," kata Sugiono.
"Dan saat ini, dunia bergerak menuju kompetisi yang lebih tajam dan fragmentasi yang lebih dalam."
Menghadapi situasi tersebut, Sugiono menekankan pentingnya membaca arah angin. Mau tak mau, Indonesia pun harus turut masuk dalam mode survival, tentu saja dengan caranya sendiri.
Puluhan Kerja Sama Baru: Dari Pertahanan hingga Hukum
Dalam setahun terakhir, pemerintah disebutkan telah menyepakati puluhan kerja sama strategis. Cakupannya luas, mulai dari sektor pertahanan hingga penegakan hukum.
“Dalam setahun terakhir, kita menyepakati tujuh kerja sama di bidang pertahanan serta 16 perjanjian penegakan hukum, termasuk di antaranya dengan Australia, Kanada, Prancis, Turki, dan Yordania,” papar Sugiono.
“Kita juga membentuk kemitraan strategis dengan Rusia dan Thailand, serta kemitraan strategis komprehensif dengan Vietnam,” lanjutnya.
Menurut Sekjen Partai Gerindra ini, berbagai kesepakatan itu bukanlah dokumen yang berdiri sendiri. Ia menyebutnya sebagai fondasi untuk memperkuat kepastian dan keselarasan kerja sama antarnegara. "Berbagai kesepakatan ini adalah komitmen untuk memperdalam kepastian kerja sama dan interoperabilitas," tuturnya.
Komunikasi ke Iran Tersendat, Dampak ke WNI Masih Terbatas
Di sisi lain, Menlu Sugiono mengakui adanya kendala komunikasi ke Iran, yang tengah dilanda demonstrasi besar-besaran. Meski begitu, dampaknya terhadap Warga Negara Indonesia di sana dinilai masih relatif terbatas.
“Komunikasi agak sulit ke Iran. Tapi dari informasi terakhir yang saya terima karena kebanyakan warga negara Indonesia di Iran itu adalah pelajar yang terkonsentrasi di Qom dan Isfahan laporan yang sampai ke saya, ya tidak banyak WNI yang terdampak,” ujar Sugiono menanggapi pertanyaan jurnalis di Kantor Kemlu.
Artikel Terkait
Dua Bibit Siklon Mengintai, Waspadai Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi
109 Tiang Monorel Rasuna Said Mulai Dibongkar, Target Rampung 2026
Malam di Rasuna Said: Tiang Pertama Monorel Mangkrak Akhirnya Runtuh
Calya Bekas: Solusi Cerdas Ibu Pintar untuk Mobilitas Keluarga