Namun begitu, ia tetap mengimbau seluruh WNI di Iran untuk tidak lengah, meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau perkembangan situasi keamanan setempat.
Pendampingan untuk WNI Terduga Pendukung ISIS di Yordania
Sugiono juga memastikan bahwa pemerintah telah memberikan pendampingan kepada WNI yang ditangkap kepolisian Yordania karena diduga terlibat dengan ISIS.
“Dari awal kita sudah memberikan pendampingan sebenarnya. Terakhir juga kita sudah diberi izin untuk mengunjungi yang bersangkutan di juvenile detention,” katanya.
Upaya itu, tegasnya, akan terus dilakukan. Apalagi mengingat WNI yang ditahan tersebut masih di bawah umur. “Satu, kita juga tetap akan melakukan upaya-upaya pendampingan dan perlindungan, karena yang bersangkutan juga masih di bawah umur,” ujarnya. Pemerintah, kata dia, akan mencermati perkara ini secara menyeluruh.
Mengejar Kursi DK PBB: Bukan Cuma Soal Gengsi
Pada forum yang sama, Sugiono mengumumkan bahwa Indonesia kembali mencalonkan diri sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029–2030. Pencalonan ini disebutnya sejalan dengan keterlibatan aktif Indonesia dalam berbagai inisiatif menyambut 80 Tahun PBB, di mana Indonesia mendorong organisasi dunia itu agar lebih responsif dan berdampak.
“Atas dasar inilah, Indonesia kembali mencalonkan diri sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2029–2030,” kata Sugiono.
“Hal ini kita lakukan bukan untuk prestise semata, tetapi untuk memastikan bahwa sistem tetap berfungsi, bahkan di tekanan yang semakin besar, dan sebagai wujud komitmen Indonesia untuk memperbaiki dan mereformasi institusi multilateral.”
Ia mengakui multilateralisme saat ini tengah menghadapi ujian berat. Masalahnya bukan pada nilai dasarnya, melainkan karena arsitekturnya yang tertinggal dari realitas geopolitik dan keamanan global yang berubah cepat. Meski demikian, Indonesia memilih untuk tetap berada di dalam sistem. Sugiono menegaskan, Indonesia tak akan menggantungkan kepentingan nasional pada multilateralisme yang mandul, tetapi juga tak mau menyerahkan masa depannya pada dunia tanpa aturan.
Memantau Per Jam Nasib 2 WNI Korban Pembajakan di Gabon
Perhatian lain pemerintah tertuju pada kasus pembajakan kapal penangkap ikan di perairan Ekwata, Gabon, yang terjadi pada Minggu (11/1) lalu. Empat WNI menjadi korban penculikan dalam insiden tersebut.
Sugiono menyatakan pemantauan dilakukan terus-menerus, bahkan nyaris per jam. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Kedutaan Besar China di Gabon untuk mendapatkan informasi terbaru. Dua dari empat korban diketahui masih aman di dalam kapal.
“Ya, ini kita lagi satu, memantau terus perkembangannya. Dan saya juga mencoba untuk berkoordinasi dengan Kedutaan Tiongkok,” katanya.
Sayangnya, hingga Rabu lalu, belum ada kepastian mengenai kondisi dua WNI lainnya yang masih hilang. “Terus terang sejauh ini juga kita belum tahu nasib yang dua. Tapi kita akan coba cari jalur untuk bisa cari tahu kondisinya seperti apa,” pungkas Sugiono.
Artikel Terkait
Dua Bibit Siklon Mengintai, Waspadai Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi
109 Tiang Monorel Rasuna Said Mulai Dibongkar, Target Rampung 2026
Malam di Rasuna Said: Tiang Pertama Monorel Mangkrak Akhirnya Runtuh
Calya Bekas: Solusi Cerdas Ibu Pintar untuk Mobilitas Keluarga