Ramadan di Yerusalem: Akses ke Al-Aqsha Dikencangkan, Ibadah Dibatasi

- Kamis, 15 Januari 2026 | 06:25 WIB
Ramadan di Yerusalem: Akses ke Al-Aqsha Dikencangkan, Ibadah Dibatasi

Yerusalem – Peringatan keras datang dari Pemerintah Provinsi Yerusalem. Mereka menyoroti langkah-langkah Israel yang dinilai bakal membatasi akses warga Palestina ke kota ini, khususnya ke Masjid Al-Aqsha, selama Ramadan nanti. Menurut mereka, ini bukan sekadar pembatasan biasa. Langkah-langkah itu digambarkan sebagai pelanggaran nyata terhadap kebebasan beribadah sebuah eskalasi yang terkesan sewenang-wenang dan dibuat-buat.

Lewat sebuah pernyataan tertulis yang dirilis Rabu lalu, pemerintah provinsi mengungkapkan bahwa rencana pembatasan itu berawal dari rekomendasi komite keamanan nasional parlemen Israel. Intinya, mereka mau membatasi jumlah dan kategori jemaah dari Tepi Barat yang boleh masuk ke Yerusalem. Bagi pihak Palestina, ini jelas dianggap sebagai hukuman kolektif. Lebih dari itu, sebuah pelanggaran serius terhadap hak-hak beragama mereka.

“Rekomendasinya mencakup pembatasan berdasarkan angka dan usia,” begitu bunyi pernyataan itu. Rencananya juga disertai dengan operasi penangkapan dan pengejaran yang mereka sebut sebagai bagian dari skema “preventif”. Tujuannya? Untuk mengencangkan cengkeraman kontrol atas Yerusalem dan menambah belenggu terhadap kebebasan beragama warga Palestina, baik dari Tepi Barat maupun Gaza. Mereka memperingatkan agar rekomendasi ini jangan sampai benar-benar diterapkan di lapangan.

Di sisi lain, situasi di lapangan sudah memanas. Pemerintah daerah mencatat serangan-serangan oleh pemukim ke Masjid Al-Aqsa kian menjadi-jadi. Pelanggaran yang terjadi disebut-sebut belum pernah terjadi sebelumnya, dan semua itu didukung langsung atau tidak oleh otoritas Israel. Sejak Oktober 2023 lalu, sistem izin yang berbelit dan batasan usia yang ketat sudah diberlakukan. Akibatnya, ratusan ribu warga Palestina praktis terhalang untuk mendatangi Al-Aqsha, kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit.

Bagi banyak warga di Tepi Barat dan Gaza, Ramadan sebenarnya adalah kesempatan emas. Satu-satunya momen dalam setahun di mana mereka punya harapan untuk bisa menginjakkan kaki di Yerusalem, mengingat sepanjang tahun akses itu nyaris tertutup sama sekali.

Namun begitu, kenyataannya justru makin suram. Ramadan tahun 2024 dan 2025 disebut mengalami pembatasan yang benar-benar ekstrem. Jumlah jemaah yang diizinkan masuk ke Yerusalem dipatok hanya 10.000 per minggu, itu pun hanya pada hari Jumat. Prosedurnya jadi rumit: butuh izin yang sulit, kartu identitas magnetik yang tidak mudah didapat, plus aturan usia ketat untuk pria, wanita, dan anak-anak.

Belum cukup sampai di situ. Jemaah juga dipaksa meninggalkan masjid sebelum malam tiba. Alhasil, Al-Aqsha sering terlihat sepi. Dampaknya langsung terasa: jumlah jemaah shalat Jumat yang biasa mencapai 250.000 sebelum Oktober 2023, anjlok drastis. Pada Jumat kedua Ramadan 2025, hanya sekitar 80.000 orang yang hadir.

Ada lagi yang bikin pilu. Untuk pertama kalinya sejak 2014, otoritas Israel melarang ibadah malam dan itikaf di Al-Aqsha pada malam Jumat dan Sabtu. Jemaah dipaksa keluar. Ini, kata mereka, semakin mempertegas kendali Israel yang tak pernah terjadi sebelumnya atas situs suci tersebut.


Halaman:

Komentar