Ada lagi taktik yang akrab di kalangan sayap kanan: ancaman deportasi.
Mengancam akan melaporkan pengunjuk rasa ke imigrasi. Membuat orang khawatir apakah bersuara akan membahayakan keselamatan diri dan keluarga. Sekalipun ancamannya dikurangi, niatnya jelas: membungkam kebebasan berbicara dengan membuat konsekuensinya terasa mengerikan.
Yang lebih mencemaskan, berkas itu juga menyebut klaim soal penggunaan pengenalan wajah dan penyusunan daftar untuk deportasi hal-hal yang membuat orang merasa seperti terus diawasi negara. Taktik ini persis seperti yang dipakai rezim otoriter: membuat warga merasa seperti buruan.
Lalu, eskalasi ke tindakan fisik pun terjadi.
Dokumen menggambarkan pelecehan yang berujung pada intimidasi dan penyerangan mulai dari menguntit, ancaman langsung, sampai ancaman akan diikuti hingga ke rumah. Ini bukan "aktivisme". Ini ancaman terorganisir.
Dan yang paling mengkhawatirkan: dorongan untuk membawa senjata ke demonstrasi. Bukan untuk keamanan, tapi senjata seperti semprotan merica, pisau, atau benda lain yang bisa dipakai menyerang. Bahkan ada anjuran untuk membawa anjing penyerang. Coba bayangkan. Di Kota New York. Di ruang publik, di sekitar keluarga dan mahasiswa, di tengah orang-orang yang sedang menjalankan hak konstitusional mereka.
Ini seperti kilas balik ke era terkelam kekerasan politik di Amerika, ketika massa merasa berkuasa bahkan merasa benar karena yakin negara akan memihak mereka.
Itulah mengapa intervensi ini krusial. Karena ketika intimidasi dinormalisasi, kekerasan adalah langkah berikutnya. Saat kekerasan merajalela, orang-orang akan takut hadir. Dan ketika orang memilih diam, para ekstremis paling lantanglah yang menang.
Saya ingin tegaskan satu hal: semua ini sama sekali bukan "pro-Yahudi".
Ini juga bukan pro-keamanan, apalagi pro-demokrasi. Ini pro-ketakutan. Pro-kekerasan. Pro-pembungkaman.
Dan ketika pemerintah mana pun membiarkan ini tumbuh dengan mengabaikan, memaafkan, atau merasionalisasinya mereka sedang mengajarkan pelajaran paling berbahaya: bahwa sebagian orang berada di atas hukum. Bahwa meneror orang lain bisa disebut "patriotisme".
New York bilang: tidak di sini.
Tapi kita juga harus melihat konteks yang lebih luas.
Karena di saat yang sama, ketika Gaza semakin tenggelam dalam bencana, kita menyaksikan normalisasi pelecehan sebagai alat politik. Dehumanisasi jadi hiburan, kekerasan dianggap biasa, ancaman deportasi jadi alat andalan dan semua ini makin meluas.
Itulah sebabnya saya akan terus melaporkan. Itulah sebabnya saya akan terus menyuarakan ini. Dan itulah sebabnya saya butuh kalian bersama saya.
Artikel Terkait
Fahri Hamzah Bicara Shadow Power, Ini Tantangan Kedaulatan Finansial di Balik Layar
Di Balik Angka Pertanian yang Gemilang, Hidup Petani Masih Berliku
Randu Raksasa Tuksongo: Bertahan atau Tumbang demi Keselamatan?
Video Zulhas Hina Shalat: Kok Bisa Bebas Berkeliaran?