Stephen Miran, seorang Gubernur Federal Reserve, punya pandangan yang cukup tegas soal arah kebijakan moneter AS tahun ini. Ia mendorong pemangkasan suku bunga hingga 150 basis poin. Tujuannya jelas: mendongkrak pasar tenaga kerja Amerika.
Masa jabatannya memang berakhir Januari nanti. Tapi dalam wawancara dengan Bloomberg Television, Miran bersikukuh bahwa The Fed masih punya ruang untuk bergerak. Argumennya bertumpu pada proyeksi inflasi inti yang menurutnya akan berada di kisaran 2,3 persen hampir menyentuh target.
"Saya melihat sekitar satu setengah poin pemangkasan. Inflasi inti berjalan di sekitar target kami dalam batas toleransi, dan itu menjadi indikasi yang baik mengenai arah inflasi secara keseluruhan dalam jangka menengah," ujarnya.
Nada serupa datang dari Scott Bessent, Menteri Keuangan AS. Di hadapan Economic Club of Minnesota, ia menegaskan keinginan pemerintah untuk suku bunga yang lebih rendah.
"Pemangkasan suku bunga akan memberikan dampak nyata bagi kehidupan setiap warga Minnesota. Itu adalah satu-satunya elemen yang masih kurang untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Karena itulah The Fed seharusnya tidak menunda," tegas Bessent.
Di sisi lain, lembaga pemeringkat Fitch justru memandang ekonomi AS dengan sedikit lebih optimis. Mereka menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB untuk 2025 menjadi 2,1 persen, naik dari perkiraan sebelumnya 1,8 persen. Untuk 2026, proyeksi juga dinaikkan jadi 2 persen.
Namun begitu, Fitch juga memperingatkan soal inflasi. Mereka memperkirakan angka inflasi akan naik ke 3 persen pada Desember dan berakhir di 3,2 persen pada akhir 2026 sebuah dampak yang disebut tertunda dari kebijakan tarif.
Seruan Miran untuk pemotongan 150 bps itu sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Pandangannya sejalan dengan proyeksi terendah di antara 19 pembuat kebijakan The Fed, yang dirilis dalam pertemuan Desember lalu. Perkiraan anonim itu menempatkan suku bunga dana federal di kisaran 2,00–2,25 persen pada akhir 2026.
Angka itu jauh lebih rendah dibanding level suku bunga saat ini, yang berada di 3,50–3,75 persen. Bahkan, proyeksi Miran itu 50 basis poin lebih rendah dari perkiraan terendah berikutnya. Sebuah pandangan yang cukup agresif, sekaligus menggambarkan keyakinannya bahwa inflasi benar-benar akan mereda.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Melemah Tipis ke Level 5.744, Mayoritas Sektor Tertekan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Buyback Terkoreksi Rp40.000 per Gram
Tempo Scan Bagikan Dividen Rp676,48 Miliar untuk Tahun Buku 2025
Pabrik Amonia Banggai Kembali Beroperasi Penuh Usai Pemeliharaan Terjadwal