Oleh SHAUN KING
Akhirnya, Negara Bagian New York bertindak. Sebuah langkah yang sebenarnya sudah sangat terlambat.
Jaksa Agung New York baru saja membubarkan sebuah kelompok ekstremis Yahudi yang berbasis di sini. Tujuannya jelas: menghentikan teror mereka di jalanan kita. Intimidasi, pelecehan, bahkan kekerasan itulah modus mereka selama ini.
Dan detail laporannya sungguh memuakkan. Mereka tak cuma menyasar warga Palestina atau Muslim. Siapa pun yang punya pendapat berbeda, termasuk warga Yahudi New York sendiri, jadi sasaran empuk. Pokoknya, kalau kamu nggak sepaham, bersiaplah.
Lalu, seperti apa wujud ekstremisme yang dibiarkan tumbuh ini? Mari kita lihat temuan resminya. Surat pembubaran sudah keluar, meski saya yakin kelompok semacam ini akan bangkit lagi dengan wajah baru.
Ini bukan soal politik. Ini murni kampanye teror.
Polanya berulang. Sistematis. Sasaran mereka beragam: agama, latar belakang, identitas, bahkan hak dasar untuk berdemonstrasi pun mereka injak.
Menurut dokumen Jaksa Agung, kelompok ini terang-terangan mendefinisikan misinya dengan kata-kata yang bikin merinding: "mempersenjatai orang Yahudi" dan "menghadiri serta mengganggu" unjuk rasa. Bukan berdialog, bukan meyakinkan. Tapi mengganggu. Soal kekerasan, pesannya juga gamblang. Intinya, kita lagi perang, dan kekerasan adalah alat yang sah.
Itu bukan kebebasan berbicara. Itu persiapan untuk menyerang. Mereka membangun budaya di mana menyakiti orang lain dianggap biasa, bahkan patut dirayakan.
Bahasa yang dipakai? Sangat merendahkan.
Berkas itu mencatat penghinaan berulang terhadap warga Palestina dan Muslim termasuk olok-olok keji terhadap kuffiyeh, sorban khas Palestina. Ini penting. Dehumanisasi bukan cuma kata-kata kasar. Sejarah membuktikan, itu adalah batu pijakan untuk membenarkan kekerasan.
Tapi yang bikin miris, sasaran mereka lebih luas dari yang dibayangkan.
Warga Yahudi New York yang vokal dan kritis juga kena getahnya. Temuan menyebut ancaman untuk membuat daftar aktivis Yahudi lalu melaporkannya ke otoritas asing, agar perjalanan mereka diblokir. Coba pikir, sesat sekali kan? Menghukum sesama Yahudi hanya karena dianggap "salah jenis", punya keyakinan "salah", atau karena berani menolak.
Begitulah ekstremisme bekerja. Ia melahap saudaranya sendiri. Menuntut loyalitas buta. Menghukum perbedaan. Rasa takut jadi harga mahal untuk sekadar bersuara.
Lalu, ada soal "pelecehan pager".
Bagi yang belum tahu, begini faktanya: Israel pernah menggunakan pager berisi bom yang melukai dan menewaskan ribuan Muslim di Lebanon, termasuk wanita dan anak-anak. Nah, dokumen Jaksa Agung mendeskripsikan insiden di mana orang-orang termasuk mahasiswa didekati, ditekan, bahkan secara fisik dipaksa menerima "pager". Ini bukan lelucon. Ini ancaman terselubung yang dirancang untuk membungkam orang lewat ketakutan. Itu bukan protes. Itu teror di tempat umum, hanya karena pakaian, keyakinan, atau identitas yang mereka sandang.
Artikel Terkait
Menlu Sugiono Peringatkan Dunia Kembali ke Era Might Makes Right
Kengerian di Palagan: Ojol Ditabrak, Lalu Dihujani Makian dan Ancaman Senjata Api
Ramadan di Yerusalem: Akses ke Al-Aqsha Dikencangkan, Ibadah Dibatasi
Anies Baswedan Buka Suara: Saya Dituduh Syiah, Juga Dituduh Wahabi