Lebih jauh, analogi yang dibangun Pandji dalam materinya pun disorot. Pernyataannya yang menyamakan "rajin salat belum tentu baik" dengan "rajin belum tentu pintar" disebut sebagai kesesatan berpikir. Menurut FPI, analogi itu merendahkan nilai ibadah sekaligus menyesatkan publik. Begitu pula dengan perbandingan pilot dan pemimpin negara yang ia gunakan dianggap sebagai logika yang menyesatkan.
Maka, tuntutan pun diajukan. FPI meminta Pandji untuk segera bertobat nasuha, memohon ampun kepada Allah, dan minta maaf kepada umat Islam. Tak cuma itu, mereka juga akan mengawal proses hukum atas dugaan penistaan ini. Mereka mendesak penegak hukum bertindak sesuai aturan.
Permintaan lain juga ditujukan ke Netflix. Platform streaming itu diminta untuk menghapus, memotong, atau menyensor materi "Mens Rea" yang dianggap bermasalah. Seruan ini disampaikan dengan nada tegas.
Persoalannya kini merambah ke ranah yang lebih luas: di mana batas kebebasan berekspresi dan penghormatan pada keyakinan? Kasus Pandji ini sekali lagi menguji tegangan itu. Dan seperti biasa, publik menunggu respons berikutnya.
Artikel Terkait
Di Tengah Gemerlap Dunia Maya, Hidup Biasa Justru Jadi Pilihan Paling Waras
Kunjungan Wapres Gibran ke Yahukimo Ditunda, Pangdam Ungkap Ancaman Keamanan
Dua Warga China Ditahan di Kalbar Usai Serang Anggota TNI di Lokasi Tambang
Habib Rizieq dan Massa Islam Desak Netflix Hapus Konten Pandji yang Disangkutkan dengan Salat