Mediasi pun dilakukan. Agus memberi pilihan: buat petisi jika tak mau dia mengajar lagi. Ia juga meminta siswanya berubah. Di sisi lain, para siswa bersikukuh meminta Agus meminta maaf. Negosiasi pun mentok, tak ada titik temu.
Dan situasi justru berubah makin runyam. Usai mediasi, Agus diajak komite ke kantor. Di situlah pengeroyokan terjadi.
Keributan terus berlanjut hingga sore. Para siswa yang masih emosi mengancam dan bahkan melempari Agus dengan batu. Dalam kondisi terdesak, Agus sempat bereaksi dengan mengacungkan celurit.
Ia menjelaskan, alat itu tersedia karena sekolahnya adalah SMK pertanian. Tujuannya cuma satu: menggentak para siswa agar bubar.
Akibat insiden itu, tubuh Agus penuh memar, termasuk di pipinya. Ia sudah melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, menunggu tindak lanjut yang jelas. Sekolah yang seharusnya tempat menimba ilmu, kini menyisakan kisah pilu tentang sebuah hubungan yang retak.
Artikel Terkait
Partai Gema Bangsa Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Desak Pemerintah Ambil Langkah Diplomasi
Polrestabes Makassar Perketat Pengamanan Ramadan, Larang Sahur on The Road
PKB Kecam Serangan Udara ke Pemimpin Iran, Desak PBB Selidiki Pelanggaran Hukum Internasional
Film Kolosal Macan Betina dari Timur Angkat Kisah Pahlawan Luwu Opu Daeng Risadju