Guru SMK di Jambi Dikeroyok Murid Usai Teguran Berujung Ricuh

- Rabu, 14 Januari 2026 | 22:18 WIB
Guru SMK di Jambi Dikeroyok Murid Usai Teguran Berujung Ricuh

Suasana pagi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendadak ricuh Selasa (13/1) lalu. Agus Saputra, seorang guru di sekolah itu, dikeroyok oleh sejumlah siswanya sendiri. Aksi itu terjadi di lingkungan sekolah, persis saat jam pelajaran masih berlangsung.

Video yang beredar memperlihatkan situasi yang mencekam. Agus terlihat berusaha melawan, sebelum akhirnya ditarik masuk ke sebuah ruangan berpintu besi. Barulah di sana, hantaman para siswa itu berhenti.

Menurut Agus, semua berawal dari sebuah teguran yang tak pantas. Saat ia berjalan di depan kelas, seorang siswa meneriakkan kata-kata kasar ke arahnya.

"Menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas saat belajar," kenang Agus, Rabu (14/1).

Merasa tersinggung, Agus masuk ke kelas dan menantang si pelaku untuk mengaku. Siswa itu mengakui perbuatannya. Tapi alih-alih meminta maaf, ia malah menantang balik sang guru.

"Dia langsung menantang saya. Akhirnya saya refleks menampar muka dia," ujar Agus.

Tamparan itu, bagi Agus, adalah bentuk teguran dan pendidikan moral. Tapi reaksi yang muncul justru kemarahan. Guru-guru lain pun turun tangan untuk memediasi.

Namun begitu, cerita dari para siswa agak berbeda. Mereka mengaku Agus telah menghina salah satu murid dengan sebutan 'miskin', yang kemudian memicu keributan. Agus membantah tudingan itu. Katanya, ucapannya itu bermaksud memotivasi, bukan mengejek.

"Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, 'kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," ungkapnya tegas.

Mediasi pun dilakukan. Agus memberi pilihan: buat petisi jika tak mau dia mengajar lagi. Ia juga meminta siswanya berubah. Di sisi lain, para siswa bersikukuh meminta Agus meminta maaf. Negosiasi pun mentok, tak ada titik temu.

Dan situasi justru berubah makin runyam. Usai mediasi, Agus diajak komite ke kantor. Di situlah pengeroyokan terjadi.

"Setelah mediasi, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh saya," ujarnya.

Keributan terus berlanjut hingga sore. Para siswa yang masih emosi mengancam dan bahkan melempari Agus dengan batu. Dalam kondisi terdesak, Agus sempat bereaksi dengan mengacungkan celurit.

Ia menjelaskan, alat itu tersedia karena sekolahnya adalah SMK pertanian. Tujuannya cuma satu: menggentak para siswa agar bubar.

"Kenapa saya memakai itu? Agar mereka bubar, tidak ada niat lain. Pada kenyataannya mereka juga tidak bubar, malah melempari saya dengan batu," terangnya.

Akibat insiden itu, tubuh Agus penuh memar, termasuk di pipinya. Ia sudah melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, menunggu tindak lanjut yang jelas. Sekolah yang seharusnya tempat menimba ilmu, kini menyisakan kisah pilu tentang sebuah hubungan yang retak.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar