Di tengah tantangan itu, justru semangat Diah tak pernah pudar. Ia punya alasan kuat.
"Kita lihat anak-anak ini punya masa depan yang panjang. Mereka menjalani terapi sambil ketawa, happy. Itu yang bikin kita ikut semangat membantu mereka," ujarnya, matanya berbinar.
Di sisi lain, Diah sangat menekankan satu hal yang kerap terlupa: peran orang tua. Menurutnya, terapi di klinik saja tidak cukup. Kunci sesungguhnya ada pada interaksi intens dan berkelanjutan di rumah.
"Setiap anak itu istimewa dan punya jalannya masing-masing," tuturnya. "Kadang orang tua berpikir cukup dengan membelikan mainan mahal. Padahal yang paling dibutuhkan anak itu interaksi langsung dengan orang tuanya."
Mainan tanpa pendampingan, tanpa percakapan yang hidup, rasanya akan hambar. Dampaknya bagi perkembangan anak pun jadi tidak optimal.
"Mereka butuh didengar, dibantu, dan diterima. Itu yang paling utama," pungkas Diah. Sebuah pesan sederhana, tapi mendalam, yang menggema di ruang terapi itu.
Artikel Terkait
Kapolri Lantik Brigjen Totok Suharyanto Pimpin Kakortas Tipidkor
Musisi AS Tuduh Serangan ke Iran sebagai Pengalihan dari Skandal Epstein
Pemimpin Tertinggi Iran Unggah Ayat Al-Quran, Bantah Klaim Kematian dari AS
BMKG Makassar Peringatkan Potensi Hujan Ringan dan Angin Kencang di Sulsel