Rizal Fadillah Didepak dari TPUA, Tuding Eggi Sudjana Otoriter dan Rusak Marwah Ulama

- Rabu, 14 Januari 2026 | 06:50 WIB
Rizal Fadillah Didepak dari TPUA, Tuding Eggi Sudjana Otoriter dan Rusak Marwah Ulama

Rizal Fadillah: Suara yang Tak Pernah Lelah

Di tengah riuh rendah wacana publik, nama Rizal Fadillah muncul dengan caranya sendiri. Bukan dengan teriakan, tapi dengan gagasan. Bukan dengan pencitraan, melainkan keteguhan prinsip. Sosok aktivis ini lama dikenal sebagai pengkritik yang tak mudah goyah, selalu menyuarakan isu keadilan dan kepentingan rakyat dengan gaya yang lugas dan berani. Bagi banyak orang, dia adalah pengingat bahwa demokrasi butuh suara-suara kritis yang jujur.

Reputasinya bukan dibangun dari popularitas instan. Rizal hadir lewat pemikiran dan sikap. Pandangannya kerap tajam, bahkan dianggap kontroversial, namun selalu disertai kerangka berpikir yang rasional. Ia bicara hukum, politik, kebangsaan, dan moral publik dengan satu tujuan: menjaga marwah nilai-nilai yang ia yakini mulai tergerus pragmatisme kekuasaan.

Di sisi lain, Rizal bukan sekadar tukang kritik. Ia seorang intelektual-aktivis yang juga menjelaskan, menawarkan alternatif. Dalam berbagai forum diskusi, tulisan opini, atau pernyataan sikap kemampuannya meramu data, sejarah, dan analisis hukum menjadi argumen utuh memang patut dicatat. Itu yang membuat suaranya didengar, baik oleh pendukung maupun oleh mereka yang tak sependapat.

Keberaniannya mengambil posisi di saat banyak orang memilih diam adalah ciri lain yang menonjol. Dalam situasi penuh tekanan politik, justru di situlah ia sering tampil ke depan. Bagi Rizal, diam terhadap ketidakadilan sama saja dengan membiarkannya. Sikap ini tentu punya konsekuensi: ia kerap berada di garis depan perdebatan, menghadapi risiko sosial dan politik yang tidak kecil.

Integritas menjadi kata kunci yang melekat padanya. Di mata pendukungnya, Rizal Fadillah adalah simbol keteguhan. Ia dinilai tak mudah berkompromi dengan kekuasaan jika prinsip dipertaruhkan. Meski kerap mendapat kritik balik atau serangan opini, karakternya justru makin terlihat: tetap berdiri, tetap bersuara.

Namun belakangan, namanya ramai dikaitkan dengan kasus lain. Ada Eggi Sujana dan DHL yang ‘sowan’ ke Solo, yang kemudian memicu heboh soal isu ijazah palsu. Rizal Fadillah justru didepak dari Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) tim yang dikenal sebagai penggugat kasus ijazah mantan presiden Joko Widodo.

Saat dikonfirmasi mengenai pemecatannya, Rizal memberikan tanggapan eksklusif.

"Eggi ngarang saja ada Ketum memiliki hak prerogatif. Tidak ada dasar hukumnya. Sifat Tim itu kolektif kolegial. Mengambil keputusan sendiri tanpa musyawarah, namanya otoriter. Islam berbasis pada musyawarah," ujarnya tegas.

Ia justru menyikapi pemecatan itu dengan rasa bahagia.


Halaman:

Komentar