"Karena indikasi Eggi dan DHL ketemu atau sowan kepada Jokowi itu salah dan merendahkan diri. Hak dan batil tidak boleh bercampur," lanjutnya.
Menurut Rizal, mekanisme pemecatannya pun bermasalah. "Dimana mana sanksi itu beralasan. Alasan tidak bisa bekerjasama harus ada parameter. TPUA pimpinan Eggi Sudjana tidak bersandar pada manajemen yang baik. Kerja hanya tergantung pada kemauan Ketum adalah buruk, bahkan busuk."
"Eggi memang tidak becus dalam berorganisasi. Lucu, pemecatan bersandar pada like and dislike atau hawa nafsu semata," tambahnya dengan nada sinis.
Ia menilai friksi ini bukan soal idealisme, melainkan pragmatisme. "Publik sudah dapat menilai. Mementingkan dan menyelamatkan diri sendiri adalah sumber penyakit. TPUA yang didirikan ulama, dirusak oleh Ketumnya sendiri yang memang bukan ulama."
Rizal berpendapat langkah yang seharusnya diambil berbeda. "Seharusnya atas langkah blunder sowan ke Solo apalagi dalam rangka meminta-minta restorative justice bukanlah dengan berujung memecat yang tidak terlibat."
Bagi Rizal, Eggi Sudjana-lah yang seharusnya mundur. "Eggi yang seharusnya mundur juga dari jabatan Ketum dan segera bertobat. Meminta maaf kepada ulama dan umat yang telah memberi amanat. Ia telah merusak marwah dan martabat."
Pesan terakhirnya terdengar seperti peringatan yang getir. "Awal berada di simpang jalan, lalu berdiri di tepi jurang, berakhir tenggelam di kubangan limbah kepalsuan, kemunafikan, dan kebodohan. Sungguh kasihan."
Dialog itu memperlihatkan sisi lain dari dinamika gerakan sipil. Rizal Fadillah dikenal tegas, tapi selalu mengedepankan argumentasi. Baginya, perbedaan pandangan adalah hal wajar, asal diselesaikan dengan mekanisme yang adil dan bermartabat. Ketika prinsip itu dilanggar, ia tak ragu menyampaikan kritik secara terbuka. Sikap ini menegaskan posisinya sebagai penjaga etika gerakan, bukan sekadar pengikut.
Di tengah iklim demokrasi kita yang kerap panas oleh polarisasi, Rizal Fadillah berdiri sebagai figur yang mengingatkan pentingnya akal sehat dan keberanian moral. Mungkin tak semua sepakat dengannya, tapi suaranya sulit diabaikan. Konsistensinya dalam menyuarakan kritik telah menjadikannya semacam referensi untuk membaca dinamika sosial-politik Indonesia yang tak pernah sederhana.
Pada akhirnya, sosok seperti Rizal adalah cermin. Cermin aktivisme yang berakar pada nilai, bukan kepentingan sesaat. Sebuah suara kritis yang terus menguji kekuasaan, menagih janji konstitusi, dan mengajak kita semua untuk tak lelah menjaga demokrasi. Perubahan, baginya, selalu dimulai dari keberanian bersuara dan keteguhan memegang prinsip. Titik.
Artikel Terkait
Video Sinkronisasi Tentara Turki yang Viral, Tembus 10 Juta Tayangan
Jalur Sepeda Sudirman-Thamrin Kembali Jadi Jalan Pintas Motor
Antrean Truk Berebut Solar Akan Jadi Kenangan pada 2026
Enam Miliar Sehari vs Jerih Payah Rakyat: Cuitan Bang Edi yang Bikin Sesak