Perang Rusia-Ukraina: Ketika Angka Korban Mengungkap Kelemahan Strategi

- Selasa, 13 Januari 2026 | 16:00 WIB
Perang Rusia-Ukraina: Ketika Angka Korban Mengungkap Kelemahan Strategi

✍🏻 M Rizki Fauzi

Perang Rusia-Ukraina yang berkecamuk sejak 2022 ini, mau tak mau, membuka mata banyak orang. Ternyata, kekuatan militer Rusia tak segagah yang selama ini kita bayangkan.

Di atas kertas, mereka memang terlihat menakutkan. Tapi di medan perang yang sesungguhnya? Ceritanya jadi lain. Logistik yang amburadul, koordinasi antar pasukan yang kerap kacau, dan penggunaan teknologi yang kalah canggih jadi pemandangan yang cukup sering. Intinya, perang ini membuktikan satu hal: di era sekarang, sekadar punya pasukan dalam jumlah besar itu nggak cukup. Yang lebih krusial adalah sistem yang solid, strategi yang jitu, dan kemampuan adaptasi di lapangan.

Lalu bagaimana dengan Ukraina? Meski bukan anggota NATO, mereka mampu bertahan bahkan memberi perlawanan sengit. Kuncinya ada pada dukungan ala Barat. Mereka dapat pelatihan, senjata mutakhir, dan intelijen yang rapi. Mereka jago memanfaatkan drone, senjata presisi, dan bertahan di wilayah yang mereka kuasai sendiri. Makanya, tak heran kalau banyak analis bilang, kekuatan NATO itu bukan cuma soal gudang senjata yang penuh. Lebih dari itu, soal kerja tim yang kompak, teknologi yang integrated, dan koordinasi yang nggak berantakan.

Di sisi lain, kita nggak bisa menutup mata soal nuklir. Dalam hal ini, Rusia tetaplah raksasa. Senjata pemusnah massal itu yang bikin mereka "kebal" dari serangan langsung NATO. Tapi ya itu, nuklir bukanlah solusi ajaib untuk memenangkan perang konvensional. Menggunakannya berarti mempertaruhkan kehancuran global. Jadi, klaim bahwa Rusia cuma unggul di ranah nuklir memang ada benarnya, tapi itu jelas bukan gambaran utuh dari kemampuan militernya secara keseluruhan.

Kalau sudah bicara korban jiwa, gambaran jadi semakin suram. Data-data independen yang beredar menunjukkan satu pola: korban di pihak Rusia jauh lebih besar.

Salah satu penyebab utamanya? Taktik serangan frontal yang mereka pakai, plus mobilisasi pasukan besar-besaran termasuk para prajurit dengan pelatihan seadanya.


Halaman:

Komentar