Malam itu, di tengah perayaan Natal Nasional Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pesan yang terasa sangat personal. Mantan Presiden ke-6 Indonesia itu bicara tentang persaudaraan. Bukan sekadar wacana, tapi sesuatu yang ia lihat sedang retak di banyak tempat.
“Dunia banyak memberikan pelajaran,” ujarnya, dengan nada yang berat.
Ia lalu menggambarkan betapa banyak bangsa yang terpuruk, kehilangan harapan, dan terperangkap dalam kegelapan. Menurut SBY, akar masalahnya seringkali sederhana sekaligus rumit: kegagalan merajut ikatan sebagai saudara. Gagal menjaga kebersamaan. Gagal merawat kerukunan.
“Bukan contoh seperti itu yang ingin kita bangun dan tuju di negeri ini,” tegasnya. “Bukan itu pilihan yang mesti dipilih oleh bangsa kita.”
Pernyataan itu disampaikannya pada Senin malam, 12 Januari 2026. Intinya jelas: persaudaraan adalah modal utama. Modal mutlak untuk jadi bangsa yang kuat. Tanpa itu, yang ada hanyalah pertikaian dan perpecahan yang menggerogoti dari dalam. Sejarah dunia, ia ingatkan, dipenuhi negara yang hancur lantaran konflik saudara.
Artikel Terkait
Fatah Tegaskan: Gaza Harus Dipimpin Menteri Otoritas Palestina
KPK Periksa Ketua Bidang Ekonomi PBNU Terkait Kasus Kuota Haji
Menhan Tinjau Batalyon di Muara Tae, Periksa Senjata hingga Koneksi Internet
Lumpur Bencana Dijadikan Komoditas, Prioritas Pemulihan Tergeser?