“Ini adalah peringatan bagi para politikus AS untuk menghentikan tipu daya mereka dan tidak bergantung pada tentara bayaran yang berkhianat,” ujar Khamenei dalam siaran resmi, seperti dikutip AFP.
Menurutnya, unjuk rasa besar ini berhasil menggagalkan rencana-rencana pihak asing.
Di sisi lain, aksi ini jelas jadi bagian dari narasi normalisasi yang ingin dijual pemerintah. Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran dengan tenang menyatakan situasi dalam negeri “sepenuhnya terkendali” di hadapan para diplomat asing.
Tapi benarkah semuanya sudah normal? Laporan dari lapangan dan sejumlah video di media sosial justru menunjukkan hal sebaliknya. Protes masih berlanjut, meski banyak yang bergeser ke malam hari. Pemadaman internet yang masif dan berkepanjangan membuat siapa pun sulit memastikan skala sebenarnya. Situasinya gelap, dalam arti harfiah.
LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mencoba menerangi kegelapan itu dengan data yang suram. Mereka memperkirakan sedikitnya 648 orang tewas, termasuk sembilan anak-anak, dengan ribuan lainnya terluka. Angka itu, mereka akui, kemungkinan masih jauh lebih besar.
Sementara di seberang lautan, Gedung Putih bersikap ambigu. Mereka menegaskan Trump tidak gentar menggunakan kekuatan militer. Namun begitu, pintu diplomasi katanya tetap terbuka. Sebuah ancaman dan ajakan yang disampaikan dalam satu tarikan napas.
Artikel Terkait
Mobil Dinas Terjun ke Kanal, Dua Pegawai Bank Tewas di Pelalawan
Sjafrie Sjamsoeddin Pererat Kemitraan Pertahanan Indonesia-Pakistan di Islamabad
Kantor Pusat DJP Digeledah KPK, Terkait Kasus Suap Pengurangan Pajak Rp75 Miliar
Fatah Tegaskan: Gaza Harus Dipimpin Menteri Otoritas Palestina