Lebih dari sekadar melanggar hukum, koruptor itu mengkhianati amanah hidup. Setiap jabatan sejatinya titipan. Setiap wewenang adalah ujian. Setiap tanda tangan di atas dokumen anggaran, misalnya, seharusnya dipertanggungjawabkan bukan cuma di depan sesama manusia, tapi juga di hadapan Yang Maha Melihat. Tapi koruptor memilih menukar semua itu dengan kenikmatan sesaat. Dia sadar betul perbuatannya salah, tapi tetap dilakoni. Di situlah letak kehinaannya. Kejahatan yang dilakukan dalam keadaan sadar penuh, dingin, dan penuh perhitungan.
Teroris mungkin menghancurkan sebuah gedung atau sebuah pasar. Koruptor? Dia menghancurkan seluruh sistem. Teroris menebar ketakutan yang terlihat, yang langsung menggemparkan. Sementara koruptor menciptakan penderitaan yang sunyi pelan, sistematis, dan bakal diwariskan ke anak-cucu. Dalam banyak ajaran, pengkhianatan terhadap amanah dianggap lebih berat dosanya ketimbang dosa yang lahir dari amarah atau fanatisme buta. Kenapa? Karena amarah bisa muncul dari kebodohan, fanatisme dari kesesatan pikiran. Tapi korupsi murni lahir dari keserakahan yang dipelihara, dari hati yang sengaja membungkam nurani demi kenyamanan diri sendiri.
Tulisan ini cuma pengingat saja, sih. Ujian hidup itu bukan terletak pada tinggi-rendahnya jabatan kita, tapi pada bagaimana kita memperlakukan kepercayaan yang diberikan. Kita nggak pernah tahu kapan 'kekuasaan' kecil itu datang. Bisa dalam bentuk sebuah kesempatan, sebuah keputusan, atau sedikit pengaruh. Di situlah karakter kita diuji.
Jangan sekali-kali iri pada kekayaan hasil korupsi. Itu nggak bawa berkah, cuma menunda kehancuran. Jangan pula kagum pada kemewahan yang dibangun dari pengkhianatan. Itu nggak akan memberi ketenangan, malah menambah ketakutan tersembunyi.
Buat yang lagi di persimpangan, ingat ini: hidup bersih mungkin terasa berat di awal, tapi ringan di ujung jalan. Sebaliknya, hidup dari korupsi terasa mudah dan enak di awal, tapi bakal memberatkan sepanjang sisa umur. Sebab, pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah hukuman dari manusia. Melainkan keheningan dalam hati sendiri saat kita tahu telah mengkhianati diri sendiri. (")
Artikel Terkait
Di Persimpangan Kekuasaan: Ormas yang Berdiri di Luar atau Masuk ke Arena Politik?
Prabowo Langsung Tinjau IKN, Sinyal Komitmen atau Sekadar Kunjungan Seremonial?
Komisi II Buka Pintu untuk Revisi UU Pemilu, Usul Gabung dengan RUU Pilkada
LBH Ansor Bongkar Kelemahan Hukum Kasus Gus Yaqut