✍🏻 Erizeli Jely Bandaro
Kita seringkali dibuat ngeri oleh kata terorisme. Tapi, coba kita pikirkan sejenak. Aksi teror biasanya lahir dari sebuah keyakinan, meskipun keyakinan itu jelas-jelas keliru dan sesat. Pelakunya merasa sedang berjuang untuk sesuatu yang lebih besar agama, ideologi, atau kebenaran versinya sendiri. Mereka salah, bahkan biadab, tapi dalam benak mereka ada narasi pengorbanan. Ada 'alasan' yang mereka pegang, betapa pun bobroknya.
Nah, sekarang bandingkan dengan koruptor.
Di sisi lain, korupsi adalah kejahatan yang benar-benar hampa. Tak ada ideologi yang dibela. Tak ada kebenaran yang diperjuangkan. Yang ada cuma kekosongan nilai. Satu-satunya pengorbanan yang terjadi adalah pengorbanan orang lain, bukan dirinya.
Koruptor itu lebih jahat. Bukan cuma soal dampaknya yang luas, tapi lebih ke niat di baliknya yang seratus persen egois. Bayangkan, ia merampas hak-hak jutaan orang bukan untuk sebuah cita-cita mulia, melainkan sekadar demi menumpuk harta, beli mobil mewah, atau hidup berfoya-foya. Masa depan anak-anak dicuri, pembangunan ditunda, kemiskinan dipelintir jadi lebih panjang semua dilakukan dengan tenang, tanpa malu, dan tanpa pembenaran moral apa pun. Kalau dilihat dari kacamata spiritual, ini bentuk kejahatan yang paling kosong.
Artikel Terkait
Di Persimpangan Kekuasaan: Ormas yang Berdiri di Luar atau Masuk ke Arena Politik?
Prabowo Langsung Tinjau IKN, Sinyal Komitmen atau Sekadar Kunjungan Seremonial?
Komisi II Buka Pintu untuk Revisi UU Pemilu, Usul Gabung dengan RUU Pilkada
LBH Ansor Bongkar Kelemahan Hukum Kasus Gus Yaqut