Rp100 Miliar Uang Parkir Korupsi Haji Kembali, Daftar Tersangka Diprediksi Panjang

- Selasa, 13 Januari 2026 | 08:25 WIB
Rp100 Miliar Uang Parkir Korupsi Haji Kembali, Daftar Tersangka Diprediksi Panjang

Semua berawal dari kuota tambahan Arab Saudi. Aturannya sebenarnya gamblang: 92 persen untuk haji reguler, 8 persen untuk haji khusus. Tapi di tangan para pengelola, angka itu dipelintir jadi 50:50. Seperti membagi kue dengan pura-pura adil.

Separuh untuk rakyat biasa yang antre puluhan tahun. Separuh lagi untuk ladang bisnis, dengan harga kursi yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Asosiasi travel haji disebut-sebut aktif melobi Kementerian Agama. KPK menduga lebih dari 100 travel terlibat. Logikanya kejam: makin besar perusahaannya, makin banyak kuota yang didapat, dan makin deras pula "komitmen" yang mengalir.

Dari hitungan sementara, kerugian negara bisa menembus Rp1 triliun. Di tengah angka sefantastis itu, Rp100 miliar yang kembali tadi terasa seperti recehan. Bukan tebusan, tapi mungkin sekadar uang parkir.

Yang bikin miris, KPK sendiri secara resmi mengimbau para pelaku untuk kooperatif termasuk mengembalikan uang. Secara hukum, pengembalian uang tak menghapus pidana. Tapi secara psikologis, ini menciptakan ilusi aneh: seolah korupsi bisa dicicil lunas, asal sopan dan tepat waktu.

Sementara itu, jutaan jemaah reguler masih setia menunggu. Mereka tak tahu hak mereka pernah jadi bahan tawar-menawar di rapat-rapat yang tak pernah mereka diundang. Mereka hanya tahu nomor antreannya nyaris tak bergerak, sementara orang lain melesat dengan tiket mahal.

Ibadah pun berubah rupa. Dari rukun Islam menjadi simulasi ekonomi. Dari soal ketulusan niat, jadi soal kekuatan koneksi.

Pada akhirnya, kasus ini bukan cuma soal korupsi biasa. Ini dongeng modern tentang bagaimana surga diberi jalur khusus, bagaimana angka bisa lebih berkuasa daripada doa, dan bagaimana uang Rp1 triliun bisa menguap hingga yang kembali baru sepersepuluhnya.

Kita hanya bisa meneguk kopi pahit, tertawa getir. Di negeri ini, perjalanan suci ke Tanah Suci pun harus melewati labirin birokrasi, calo, dan matematika ajaib yang memusingkan.

(Ketua Satupena Kalbar)


Halaman:

Komentar