Jadi, klarifikasi awalnya sudah jelas. Pertemuan di Solo dengan Jokowi itu murni inisiatif pribadi Eggi (dan mungkin Denny), bukan mewakili TPUA. Soalnya, “Tim”-nya sendiri baru saja dibantai lewat pemecatan massal. Klaim bahwa ini pertemuan lanjutan dari pertemuan TPUA April 2025 lalu jadi terasa mengada-ada. Sekadar karangan untuk mencari pembenaran. Misi dan caranya sudah jauh berbeda, Bro.
Dipecat oleh Eggi dari TPUA justru membahagiakan. Bukan soal pesangon, tapi karena ini membebaskan kami dari dosa kenistaan. Bayangkan, seperti utusan yang merengek-rengek menghadap Fir’aun dengan dalih memberi nasihat, padahal misi aslinya adalah pembebasan kaum tertindas. Bukan untuk kepentingan pribadi, apalagi sekadar mengusung “restorative justice”.
Menurut saya, Bang Eggi Sudjana (BES) sebaiknya fokus pada penyembuhan dan mendekatkan diri pada Allah. Lepaskan saja urusan dunia yang tak pernah memuaskan ini, dan waspadai akhir yang buruk. Pertemuan Solo kemarin itu adalah fitnah. Dan saya membayangkan, klarifikasi selanjutnya akan semakin sulit. Ujung-ujungnya cuma saling tembak, saling pecat.
Kasihan, Eggi sekarang benar-benar di tepi jurang. Seorang ulama bahkan berkomentar canda, “Nanti kalau jatuh, kelelep dalam tumpukan sampah.”
Nasihat saya untuk Bang Eggi: kembalilah ke jalan yang benar. Takutlah pada Allah, yang berkuasa membolak-balikkan hati. Bukankah kita selalu berdoa:
Salam.
") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 13 Januari 2026
Artikel Terkait
Sembilan Agenda Prioritas DPR di Sidang III, Mulai dari Bencana hingga Reformasi Hukum
Gelombang Dukungan di Teheran, Protes di Kegelapan
Fahri Hamzah Soroti Jurang Ekonomi dan Trauma Politik di Era Baru
Tutup Tangki Motor Jatuh ke Selokan, Damkar Depok Turun Tangan