Jakarta kembali digenangi air. Hujan deras yang mengguyur sejak dini hari, Senin (12/1), berubah jadi mimpi buruk bagi ribuan warga dan pengendara di pagi hari. Lalu lintas macet total, sementara genangan air dengan cepat berubah menjadi banjir yang merendam rumah dan jalan.
Kondisi paling parah tercatat di Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Air dari Kali Krukut yang meluap, diperparah hujan lebat di hulu, membuat kawasan itu terendam hingga ketinggian 95 sentimeter. Menurut Mohamad Yohan dari BPBD DKI, air mulai merayap masuk ke permukiman warga sekitar pukul tujuh lewat empat puluh lima pagi.
“Luapan Kali Krukut dan hujan intensitas lebat di hulu yang mengakibatkan genangan atau banjir di Jalan NIS,” jelas Yohan.
Hanya dalam waktu sejam setengah, ketinggiannya sudah bervariasi di beberapa titik. Akibatnya, tak kurang dari 907 jiwa harus berhadapan dengan banjir yang menggenangi rumah mereka.
Di sisi lain, dampaknya langsung terasa di jalanan. Kemacetan parah menjalar hingga ke ruas tol. Kompol Dhanar Dhono Vernandhie dari Polda Metro Jaya bilang, kepadatan terjadi karena jalan-jalan arteri sebagai pintu keluar-masuk tol ikut tergenang.
“Kalau padat itu di Podomoro, Sunter. Yang keluar-keluar itu karena arterinya banjir, jadinya dia padat di tol,” kata Dhanar.
Menurut laporan yang masuk ke polisi, titik terparah ada di Rawa Bokor. Air di sana mencapai 60 cm! Petugas pun terpaksa melakukan rekayasa lalu lintas, mengalihkan kendaraan yang mau keluar Rawa Bokor untuk lurus ke arah bandara. “Mobil sedan enggak bisa melintas di keluaran Plumpang, tapi minibus masih bisa,” ungkapnya.
Bahkan, situasi ini memaksa polisi mengambil kebijakan tak biasa: mengizinkan sepeda motor masuk tol. Cuma untuk sementara, dan cuma di dua titik Tol Sunter dan Jembatan Tiga karena jalan biasa sudah seperti sungai bagi pengendara roda dua.
Tak cuma Jakarta, wilayah penyangganya ikut kebagian. Di Depok, luapan Kali Cijantung membuat Jalan Raya Duta, Cisalak, terendam sekitar 50 cm. Banyak pengendara motor nekat menerobos, dan tak sedikit yang akhirnya mogok di tengah genangan.
Ani, seorang warga berusia 53 tahun, mengaku banjir kali ini lebih tinggi dari biasanya.
“Banjir di sini dari tadi malam. Kalo kemarin itu hujan cuma, bisa langsung surut,” ujarnya. “Banyak motor yang mogok lewat sini karena ga tau akses jalan lain kayanya.”
Sementara itu, di Jakarta Timur, pemandangan ekstrem terlihat di Jalan Cakung Drainase. Sebuah video beredar menunjukkan truk kontainer besar terendam hampir seluruh bannya. Pantauan di lokasi, ketinggian air masih menyentuh 90 cm hingga sore hari. Akses jalan ditutup total, sementara petugas berjibaku memompa air agar jalanan bisa kembali dilalui.
Di Kemayoran, Jakarta Pusat, kondisi serupa meski tak sedalam itu. Genangan 20-30 cm di Jalan Hordik cukup membuat para pengendara berpikir dua kali. Banyak yang memilih berhenti di kolong flyover, memakai jas hujan, atau malah putar balik mencari jalan lain. Mereka tampak ragu, mempertimbangkan risiko mesin kemasukan air jika nekat menerobos.
Hujan memang sudah reda. Tapi pekerjaan untuk menanggulangi banjir dan kemacetan yang ditinggalkannya, masih panjang sekali.
Artikel Terkait
Raffi Ahmad Penuhi Amanah Terakhir Jupe, Bantu Ibunda yang Terpuruk Ekonomi
Ketua Ombudsman RI Ditahan sebagai Tersangka Kasus Korupsi Nikel
Unhas Tanggapi Laporan Pungli Terhadap Pengusaha Rental Papan Ucapan di Area Kampus
Warga Jemur Gabah di Badan Jalan Bypass Mamminasata, Lalu Lintas Tetap Ramai