Warga Cigudeg Tuntut Tambang Dibuka, Kantor Kecamatan Dilempari Batu

- Senin, 12 Januari 2026 | 21:18 WIB
Warga Cigudeg Tuntut Tambang Dibuka, Kantor Kecamatan Dilempari Batu
Aksi Warga Terdampak Penutupan Tambang

Jalan Ditutup, Batu Terbang: Aksi Warga Cigudeg Memanas

Suasana di Kantor Kecamatan Cigudeg pada Senin (12/1) pagi itu jauh dari biasa. Bukan hanya riuh, tapi tegang. Ratusan warga yang merasa dirugikan oleh penutupan perusahaan tambang di wilayah mereka memadati lokasi. Mereka datang dari beberapa kecamatan, seperti Cigudeg sendiri, Rumpin, dan Parungpanjang. Emosi yang sudah lama tertahan akhirnya meluap.

Akses Jalan Raya Cigudeg pun tak bisa dilewati. Ditutup massa. Tak cukup sampai di situ, kantor kecamatan itu juga menjadi sasaran lemparan batu oleh sejumlah pengunjuk rasa. Suara pecahan kaca dan teriakan saling bersahutan, menggambarkan betapa runcingnya situasi saat itu.

Di tengah kerumunan, Asep Fadlan tampil sebagai koordinator aksi. Suaranya lantang menyuarakan tuntutan utama mereka: perusahaan tambang harus segera beroperasi kembali. "Kita menuntut di bulan ini tambang harus dibuka," tegasnya.

"Kita menuntut di bulan ini tambang harus dibuka."

Menurut penuturan Asep, aktivitas tambang sudah terhenti lebih dari tiga bulan. Ia lalu merujuk pada dua surat edaran, tertanggal 19 dan 26 September, yang konon menjadi dasar penutupan. Surat itu membahas pembangunan jalan di Parungpanjang.

Nah, di sinilah masalahnya. Konon, proyek jalan yang jadi alasan itu sekarang sudah selesai. Tapi, dampak dari penghentian tambang justru berlarut-larut. Warga yang kehilangan mata pencaharian merasa dipermainkan.

Masalah lain yang disorot adalah kompensasi. Asep menyebutkan angka yang seharusnya diterima warga terdampak. "Kompensasi terhadap warga terdampak harus direalisasikan, satu orang seharusnya mendapat total Rp 9 juta dalam tiga bulan," paparnya.

"Kompensasi terhadap warga terdampak harus direalisasikan, satu orang seharusnya mendapat total Rp 9 juta dalam tiga bulan."

Sayangnya, janji itu hingga detik ini masih mengambang. Tak ada realisasi. Uang yang diharapkan tak kunjung turun, sementara kebutuhan sehari-hari terus mendesak. Kekesalan inilah yang akhirnya memicu aksi langsung ke kantor kecamatan, sebuah langkah yang menunjukkan betapa putus asanya mereka.

Demonstrasi akhirnya bubar, tapi persoalan tetap menggantung. Apakah tuntutan mereka akan didengar? Atau hanya akan menjadi berita singkat yang lalu begitu saja? Warga di tiga kecamatan itu menunggu jawaban nyata, bukan sekadar janji di atas kertas.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar