Nah, di sinilah masalahnya. Konon, proyek jalan yang jadi alasan itu sekarang sudah selesai. Tapi, dampak dari penghentian tambang justru berlarut-larut. Warga yang kehilangan mata pencaharian merasa dipermainkan.
Masalah lain yang disorot adalah kompensasi. Asep menyebutkan angka yang seharusnya diterima warga terdampak. "Kompensasi terhadap warga terdampak harus direalisasikan, satu orang seharusnya mendapat total Rp 9 juta dalam tiga bulan," paparnya.
"Kompensasi terhadap warga terdampak harus direalisasikan, satu orang seharusnya mendapat total Rp 9 juta dalam tiga bulan."
Sayangnya, janji itu hingga detik ini masih mengambang. Tak ada realisasi. Uang yang diharapkan tak kunjung turun, sementara kebutuhan sehari-hari terus mendesak. Kekesalan inilah yang akhirnya memicu aksi langsung ke kantor kecamatan, sebuah langkah yang menunjukkan betapa putus asanya mereka.
Demonstrasi akhirnya bubar, tapi persoalan tetap menggantung. Apakah tuntutan mereka akan didengar? Atau hanya akan menjadi berita singkat yang lalu begitu saja? Warga di tiga kecamatan itu menunggu jawaban nyata, bukan sekadar janji di atas kertas.
Artikel Terkait
Ray Rangkuti Peringatkan Wacana Pilkada Lewat DPRD: Bom Waktu Korupsi dan Sandera Politik
Teman Lama Dibunuh, Jenazah Ditemukan Terikat di TPU Bekasi
KPK Geledah Dua Direktorat Pajak, Uang Suap dan Bukti Elektronik Diamankan
Duel Sengit di St. James Park: Newcastle Hadang Langkah Manchester City di Semifinal Carabao Cup