Sudirman Said Bicara Tegas: Indonesia Alami Bencana Institusional

- Senin, 12 Januari 2026 | 18:25 WIB
Sudirman Said Bicara Tegas: Indonesia Alami Bencana Institusional

Sudirman mengajak kita menengok sejarah. Kekaisaran besar macam Romawi, Ottoman, atau Mongol pun akhirnya runtuh. Penyebabnya klasik: pemimpin lemah, korup, hukum kacau balau.

"Kita tidak ingin terlalu pesimis," ujarnya. "Tetapi bila kita tidak segera menyelesaikan ini, bukan tidak mungkin akibatnya akan menuju pada keruntuhan atau kemerosotan cara bernegara."

Yang bakal merasakan akibat terparah dari kerusakan institusi ini bukan generasinya yang 'menjelang magrib'. Melainkan generasi muda usia 20-an hingga 40-an tahun sekarang.

Ajakan untuk Anak Muda

Lalu, apa yang bisa dilakukan pemuda? Sudirman memberi empat saran. Pertama, berserikat. Berkumpul dalam kelompok diskusi atau komunitas yang peduli masa depan bangsa.

Kedua, asah gagasan. Tentang republik, ekonomi, lapangan kerja, dan pendidikan ke depan. "Jangan menjadi pengekor buzzer yang mengamplifikasi pikiran-pikiran sesak," pesannya.

Ketiga, bangun jembatan. Jangkau sebanyak mungkin kelompok yang punya visi dan kegelisahan serupa. Jangan eksklusif. Keempat, tahan uji. Jaga ketangguhan dan jangan takut menghadapi risiko.

Dukungan untuk yang Diteror

Di bagian lain, Sudirman menyebut para influencer dan opinion leader yang belakangan dapat teror. Mulai dari dikirimi potongan ayam, kepala babi, sampai ancaman dan coretan di mobil.

Ucapannya justru mendukung. "Itu artinya suaramu didengar, suaramu diperhatikan. Jangan surut, jangan mundur, jangan takut. Teror itu berhasil kalau kitanya surut."

Ia pun berbagi pengalaman pribadi saat masih menjabat menteri. Kantornya di Kuningan pernah ditembak peluru saat sedang urus mafia migas. "Kalau mereka mau bunuh saya di mana-mana bisa dilakukan. Itu nakut-nakutin. Kalau kita takut betul-betul, mereka sukses," tuturnya.

Di akhir pesannya, Sudirman mengajak generasi muda untuk tak membiarkan masa depan mereka "dibajak oleh para penjajah bangsa sendiri". Waktunya untuk bersiap dan merebut kesempatan memperbaiki negara.


Halaman:

Komentar