Sudah dua pekan berlalu, tapi air tak juga surut. Beberapa desa di Kabupaten Banjar masih terendam, membuat sejumlah kecamatan terisolasi. Yang lebih parah, banyak jalan utama benar-benar lumpuh, terputus dari dunia luar.
Dampaknya langsung terasa di kehidupan warga. Banyak yang tak bisa bekerja mencari nafkah. Ambil contoh para pedagang kecil, seperti penjual nasi di depan rumah. Mereka terpaksa menghentikan usahanya.
“Lokasi berjualan masih terendam banjir, jalan juga airnya masih tinggi. Jadi biarpun bisa berjualan, tidak ada juga yang beli,”
Keluhan itu disampaikan Asun, warga Desa Keramat Baru di Kecamatan Martapura Timur. Suaranya terdengar lelah ketika diwawancarai Sabtu lalu.
Untuk bertahan hidup, saat ini ia dan keluarganya mengandalkan bantuan dari pemerintah. Sembako jadi penopang utama. Modal berjualannya sudah habis dipakai selama dua pekan terendam ini.
“Selama banjir, baru dua kali mendapat bantuan. Kemarin itu dapat mi instan dua bungkus, beras setengah liter, dan air mineral dua gelas,”
Bantuannya memang tak seberapa, tapi itulah yang mereka andalkan.
Hidup di Atas Panggung Kayu
Memilih untuk tidak mengungsi ke lokasi yang jauh, Asun dan keluarganya bertahan di rumah dengan cara yang tak biasa. Mereka membuat panggung kayu di teras, dijadikan tempat tidur darurat. Tidur di sana pun tak tenang. Kadang, hewan liar terlihat melintas di sekitar mereka.
Bahkan, untuk sekadar tidur, meja-meja pun disusun jadi kasur. Itulah kenyataan pahit yang mereka jalani hari demi hari.
Jalan Utama yang Terus Tenggelam
Persoalan lain adalah terputusnya akses. Jalan Makam di Desa Keramat Baru itu vital, menghubungkan Martapura dengan Banjarbaru. Tapi sejak pertengahan Desember tahun lalu, jalan itu hilang ditelan air.
“Tinggi air di jalan masih sepaha orang dewasa. Jangankan roda dua, roda empat pun tidak bisa melintas di jalan ini,” jelas Asun.
Ini bukan kejadian sekali dua kali. Jalan ini langganan banjir setiap tahun, dengan genangan yang bisa bertahan berbulan-bulan. Wacana perbaikan dari Pemkab Banjar sempat mencuat, tapi sepertinya hanya wacana. Realisasinya nihil.
Harapan warga sebenarnya sederhana, tapi mendasar. Mereka ingin solusi permanen.
“Kita berharap ada solusi dari pemerintah agar banjir tidak lagi terjadi. Jadi bukan hanya bantuan saat banjir, namun pencegahan terjadinya banjir menjadi PR untuk Pemkab Banjar,”
Harapannya jelas: pencegahan, bukan sekadar penanganan darurat. Itulah PR besar yang masih menunggu untuk diselesaikan.
Artikel Terkait
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah
PN Jakarta Pusat Tolak Eksepsi Mardiono, Perkara Muktamar PPP Lanjut ke Pemeriksaan Bukti