Yang terjadi justru sebaliknya. Setiap harinya, dia hanya mengandalkan obat antidepresan dan penenang. Itu saja, tanpa ada pendampingan intensif dari psikolog atau psikiater. Dalam beberapa kesempatan, KL bahkan tidak tidur berhari-hari, terus terperangkap dalam siklus perilaku melukai diri yang mengkhawatirkan.
"Kepala penjaranya sampai prihatin lihat dia. Padahal pagi minum obat anti depresi, malamnya obat penenang. Itu rutin,"
tambah sang ibu, menggambarkan kepasrahan yang menyakitkan.
KL sendiri pertama kali ditangkap pada 19 Mei 2025 di rumahnya di Yordania, saat usianya masih di bawah umur. Kini, dia menunggu sidang atas tuduhan keterlibatan dengan ISIS di sebuah detention center di Madaba. Menunggu, sambil berjuang melawan pertarungan lain di dalam pikirannya sendiri.
Artikel Terkait
Ray Rangkuti Peringatkan Wacana Pilkada Lewat DPRD: Bom Waktu Korupsi dan Sandera Politik
Teman Lama Dibunuh, Jenazah Ditemukan Terikat di TPU Bekasi
KPK Geledah Dua Direktorat Pajak, Uang Suap dan Bukti Elektronik Diamankan
Duel Sengit di St. James Park: Newcastle Hadang Langkah Manchester City di Semifinal Carabao Cup