INDONESIA TERTAWA HANYA UNTUK MENUNDA TANGIS
Ibukota negara sudah tiada. Tapi kau merasa seperti masih dalam dekapan ibu kandung. Ia lenyap, musnah, dicabut bahkan mampus, kata sebagian orang. Namun kau? Masih tampak gembira. Masih merasa nyaman. Bilang masih hidup. Seolah-olah semua itu masih ada, padahal mungkin sudah muksa.
Lalu, apa yang terjadi? Ibu kota dikuasai oligarki. Kau bilang, "Ah, cuma dibeli kok." Ia berubah jadi kawasan mewah seperti PIK, dan kau menyebutnya ibu kota baru. Menjadi kawasan aglomerasi dan industri, kau teriak itu kemajuan, masa depan. Dikelola konglomerat, kau puji dia dermawan.
Bahkan ketika berubah jadi hunian imigran asing, kau anggap itu nasib. Dan saat wacana menjadi "Singapore" kedua mengemuka, kau bilang: sempurna.
Artikel Terkait
Hukuman Mati Dituntut untuk Serma yang Tewaskan Istri Sendiri
Tiga Hari Terjebak di Ketinggian Papua, 18 Pekerja Freeport Akhirnya Diselamatkan
Prabowo Terkesima, Hampir Menangis Saat Saksikan Kehebatan Murid Sekolah Rakyat
Diplomat Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB di Tengah Badai Geopolitik