Megawati Pantau Langsung Pemulihan Aceh Lewat Video Call

- Minggu, 11 Januari 2026 | 19:30 WIB
Megawati Pantau Langsung Pemulihan Aceh Lewat Video Call

Seorang dokter di lapangan, dr. Michelle, menambahkan bahwa bayi dan balita termasuk kelompok paling rentan. “Untuk bayi dan balita, kebanyakan kasus kami di lapangan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) karena setelah banjir bandang, banyak sekali debu,” ujarnya.

Pelajaran dari Masa Lalu dan Pentingnya Kecepatan

Mendengar semua laporan itu, Megawati menekankan satu hal: kecepatan. “Yang paling dibutuhkan adalah kecepatan waktu,” katanya tegas.

Ia pun menyinggung pengalaman pribadinya saat masih menjabat Wakil Presiden. Menurutnya, masa itu mengajarkan betapa faktor waktu perjalanan kerap terlupa dalam mengirim bantuan. “Karena saya waktu menjadi Wapres, itu yang paling harus disuruh adalah kadang-kadang suka lupa bahwa perjalanan itu ada,” kenang Mega.

“Cepet loh ini dikirim permintaan yang dibutuhkan. Karena tentunya nanti kita membawanya yang tentunya membutuhkan waktu. Jangan sampai kosong,” lanjutnya. Ia meminta komunikasi langsung ini dimanfaatkan untuk menghimpun semua kebutuhan warga sekaligus, agar tak bolak-balik.

Kebutuhan Nyata di Lapangan: Dari Sekop sampai Sewa Beko

Dalam percakapan dengan warga, terungkap kebutuhan yang lebih konkret. Mereka membutuhkan alat untuk membersihkan lumpur dan puing. Mirisnya, karena keterbatasan, beberapa warga sampai harus menyewa beko dengan tarif Rp 900 ribu per jam.

Selain alat berat, peralatan sederhana seperti sekop juga sangat dibutuhkan untuk membersihkan rumah masing-masing.

Di akhir dialog, Megawati menyempatkan menanyakan nasib anak-anak. Ia berharap aktivitas belajar bisa segera kembali normal. “InsyaAllah bisa cepat segera dilakukan supaya anak-anak kembali bersekolah ya,” tandasnya, mengakhiri pemantauan jarak jauh itu.


Halaman:

Komentar