Di sisi lain, korban jiwa terus menjadi perhatian. Laporan dari aktivis HAM di AS, yang dirilis AP News sebelumnya, menyebut angka minimal 116 orang tewas, termasuk puluhan aparat. Namun, angka sebenarnya diduga jauh lebih besar. Pemadaman internet yang masif ini jelas mempersulit verifikasi dan menutupi aliran informasi keluar.
Pusat HAM di Iran (CHRI) mengaku mendapat banyak kesaksian langsung. Laporan-laporan kredibel yang mereka terima mengindikasikan korban tewas bisa mencapai ratusan jiwa selama blackout berlangsung. Rumah sakit dikabarkan kewalahan, stok darah menipis sebuah gambaran yang suram.
Namun begitu, pemerintah punya narasi berbeda. Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni dengan tegas membantah klaim-klaim tersebut. Lewat siaran televisi pemerintah, ia menyatakan aksi vandalisme justru menurun.
Ia memperingatkan, "mereka yang mengarahkan protes ke arah perusakan, kekacauan, dan aksi terorisme tidak membiarkan suara rakyat terdengar".
Awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi dan lonjakan harga, protes ini telah berubah wujud. Kini, ia menjelma menjadi tantangan paling serius dalam beberapa tahun terakhir terhadap rezim teokrasi yang berkuasa sejak 1979. Gelombang ketidakpuasan ini, tanpa diragukan lagi, merupakan ujian berat bagi kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei dan masa depan Iran.
Artikel Terkait
Tiga Eks Petinggi Pertamina Divonis 9-10 Tahun Penjara atas Korupsi Minyak
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan Besok, 27 Februari 2026
Fiorentina Lolos Dramatis Usai Dihajar Hattrick Mazurek di Liga Konferensi Eropa
Gubernur Kaltim Jelaskan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Ditempatkan di Jakarta